Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hara Tanaman, Unsur Hara Esensial, Keseimbangan Hara, dan Analisis Kebutuhan Hara

Sampai saat ini telah diketahui lebih dari 100 unsur kimia. Dari lebih seratus ini hanya sekitar 17 yang merupakan hara esensial bagi tanaman.

Karbon, Hidrogen, dan Oksigen

Karbon merupakan rangka dari senyawa organik. Karbon diambil dari atmosfir dalam bentuk karbondioksida, yang biasa disebut fotosintesa. Peristiwa ini menghasilkan gula dan oksigen. Oksigen dibutuhkan dalam peristiwa respirasi.

Hidrogen bersama oksigen yang bergabung menjadi molekul air, merupakan molekul dalam jumlah terbesar dalam tubuh tanaman. Air dibutuhkan tanaman sebagai alat transportasi mineral maupun makanan tanaman, dan juga turut berperan dalam beberapa reaksi kimia dalam tubuh tanaman. Hidrogen juga merupakan molekul konstituen beberapa komponen penyusun sel tanaman.

Unsur hara esensial

Pertumbuhan tanaman tidak hanya dikontrol oleh faktor dalam (internal), tetapi juga ditentukan oleh faktor luar (eksternal). Salah satu faktor eksternal tersebut adalah unsur hara esensial. Unsur hara esensial adalah unsur-unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Apabila unsur tersebut tidak tersedia bagi tanaman maka tanaman akan menunjukkan gejala kekurangan unsur tersebut dan pertumbuhan tanaman akan merana.

Berdasarkan jumlah yang diperlukan kita mengenal adanya unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro diperlukan oleh tanaman dalam jumlah yang lebih besar (0.5-3% berat tubuh tanaman). Sedangkan unsur hara mikro diperlukan oleh tanaman dalam jumlah yang relatif kecil (beberapa ppm/ part per million dari berat keringnya).

Contoh:

Unsur N termasuk unsur hara makro. Unsur ini diperlukan oleh tanaman dalam jumlah 1-4 % berat kering tanaman. Unsur tersebut diperlukan oleh tanaman sebagai penyusun asam amino, protein, dan klorofil.

Apabila tanaman kekurangan unsur N akan menunjukkan gejala antara lain klorosis pada daun.
Gejala kekurangan N pertama kali akan muncul pada daun tertua.

Unsur Al tidak termasuk unsur hara esensial, sebab unsur ini meskipun jumlahnya banyak dalam tanah tetapi tidak diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.

Keberadaan unsur Al justru dapat bersifat racun bagi tanaman. Unsur ini dapat mengikat fosfat sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman.

Unsur Cu (cuprum) termasuk unsur hara mikro. Unsur ini diperlukan tanaman dalam jumlah yang relatif kecil (6 ppm). Jika jumlahnya banyak, Cu akan menjadi racun bagi tanaman, misalnya: Cu akan membunuh ganggang pada konsentrasi 1 ppm.

Unsur hara makro antara lain: C, H, O, N, P, K, S, Ca, dan Mg.

Sedangkan yang termasuk unsur hara mikro adalah : Fe, B, Mn, Cu, Zn, Mo, dan Cl.

Beberapa unsur ada yang esensial bagi tanaman tertentu, misalnya Na, Si dan Co. sedangkan oksigen selain dalam bentuk CO2 dan H2O juga dapat diambil dalam bentuk O2, maupun senyawa lainnya.

Unsur C, H, dan O merupakan penyusun utama makromolekul, seperti: karbohidrat, lipid, protein dan asam nukleat.

Setelah C, H, dan O, nitrogen merupakan unsur hara makro terpenting.

Nitrogen merupakan komponen dari asam-asam amino (juga protein), klorofil, koenzim dan asam nukleat. Nitrogen sering merupakan unsur pembatas pertumbuhan.

Walaupun gas nitogen menyusun 78% atmosfir bumi, tumbuhan tidak dapat menggunakannya secara langsung.

Gas N2 tersebut harus difiksasi oleh bakteri menjadi amonia (NH3).

Beberapa tumbuh-tumbuhan (seperti kacang tanah, kedelai, kapri, dan tumbuhan legume lainnya) bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium spp.

Rhizobium ini dapat memfiksasii gas N2 (yang terjerap dalam pori- pori tanah) dan mengkonversinya menjadi amonia.

Bakteri dari genus Azotobacter, yang hidup bebas dalam tanah, juga dapat melakukan fiksasi nitrogen.

Molekul NH3 dengan segera mengikat ion H+ membentuk ion NH4+.

Jika bintil akar menghasilkan ion NH4 + melebihi yang diperlukan tanaman maka ion NH4 + akan dibebaskan ke dalam tanah dan dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan non legume, oleh bakteri nitrifikasi (spesies dari genus Nitrobacter dan Nitrozomonas) dapat diubah menjadi ion nitrat.

Tumbuhan dapat mengambil nitrogen dalam bentuk ion NH4+ maupun NO -. Akan tetapi beberapa tumbuhan dapat juga mengabsorpsi sejumlah nitrogen dalam bentuk asam amino atau urea.

Beberapa tumbuhan pemakan serangga, misalnya: Venus flytrap (Drocera sp) dan kantong semar (Nephentes sp.) dapat mencerna serangga menjadi asam amino untuk memenuhi kebutuhan nitrogennya.

Unsur hara makro

N, P, dan K merupakan tiga unsur utama dalam kehidupan tanaman.

Nitrogen diambil dalam bentuk nitrat (NO - ) atau amonium (NH4+).

Nitrogen digunakan tanaman dalam sintesa asam amino, yang merupakan bahan dasar pembentukan protein.

Sumber utama nitrogen adalah nitrogen bebas (N2) di atmosfir, dan sumber lainnya senyawa- senyawa nitrogen yang tersimpan dalam tubuh jasad.

Nitrogen sangat jarang ditemukan menjadi komponen pelikan oleh karena perilakunya yang mudah larut dalam air.

Perilaku nitrogen inilah yang menjadikan endapan-endapan nitrogen yang relatif cukup banyak ditemui pada daerah beriklim kering dan itupun terbatas secara setempat.

Kandungan nitrogen tanaman rata- rata sekitar 2 sampai 4% atau terkadang dapat mencapai 6%.
Protoplasma makhluk hidup juga mengandung protein.

Nitrogen juga dibutuhkan tanaman untuk beberapa komponen vital seperti klorofil, asam nukleat dan enzim.

Defisiensi nitrogen akan membatasi pembesaran dan pembelahan sel.

Gejala defisiensi berupa tanaman yang kerdil dan kuning akan terlihat, terutama pada bagian tanaman yang lebih tua.

Berikut beberpa gejala kekurangan nitrogen pada tanaman yaitu:
  • pertumbuhan lambat
  • daun berwarna kuning (kllorosis)
  • nekrosis pada bagian ujung daun,
Nitrogen merupakan unsur mobil dalam tanaman, yaitu unsur dapat dipindahkan dari jaringan tua ke yang muda.

Gambar dibawah menunjukkan peredaran hara nitrogen di alam.

Nitrogen dapat hilang ke atmosfir melalui denitrifikasi nitrat atau oleh volatilisasi amonia.
Gambar Peredaran nitrogen
Gambar Peredaran nitrogen
Senyawa nitrogen yang tertambat pada jasad hidup dan dilibatkan dalam kegiatan fisiologisnya, dikembalikan ke dalam peredaran nitrogen setelah mengalami mineralisasi.

Peruraian senyawa N-kompleks menjadi senyawa N-anorganik sederhana sehingga memungkinkan digunakan lagi dalam asimilasi jasad berlangsung dalam dalam beberapa tahapan yang melibatkan peranan berbagai macam jasad pengurai.

Perubahan bentuk senyawa N ini dapat dijelaskan pada Gambar 15 dibawah ini.
Gambar Perubahan bentuk senyawa nitrogen
Gambar Perubahan bentuk senyawa nitrogen
Energi yang dibebaskan dari perubahan di atas akan digunakan oleh berbagai jasad tanah itu untuk melakukan kegiatannya termasuk melakukan perubahan senyawa N tahapan selanjutnya.

Proses perubahan bentuk senyawa N-organik kompleks menjadi senyawa N-organik lebih sederhana (asam amino) disebut aminasi.

Asam amino yang dibentuk melalui aminasi akan terus diserang untuk diuraikan dan dimanfaatkan oleh jasad renik sampai akhirnya akan membentuk amonim yang disebut amonifikasi.

N-amonium hasil amonifikasi ini akan digunakan oleh jasad renik tanah, diserap tanaman, atau ditambat oleh liat.

Tahapan selanjutnya adalah perubahan senyawa N-amonium menjadi senyawa nitrit (nitrifikasi).

Nitrifikasi merupakan suatu proses oksidasi enzimatik yang dilakukan sekelompok jasad renik dan berlangsung dalam dua tahap terkoordinasi.

Masing-masing tahapan dilakukan sekelompok jenis jasad renik, yang berbeda dari keompok jasad renik yang bekrja pada tahap berikutnya.

Pencucian nitrat , terutama pada tanah-tanah berpasir menyebabkan kurangnya N dari daerah perakaran tanaman.

Fosfor

Fosfor diambil tanaman dalam bentuk H2PO4 - dan HPO4 =

Posfor alam memasuki sistem tanah melalui penghancuran dan peruraian yang berjalan lambat oleh karena daya larutnya yang bergantung pada pH tanah.

Fosfor merupakan unsur yang sangat labil karena ketersediaannya dipengaruhi oleh pH.

Peredaran P di alam disajikan pada Gambar dibawah ini.
Gambar Peredaran hara posfot di alam rendah
Gambar Peredaran hara posfot di alam rendah
Walaupun pembebasan P dari bentuk tidak larut batuan posfat dan bentuk lain sangat lambat, namun takaran P yang diangkut air sungai dan diendapkan di laut sangat besar.

Diperkirakan sekitar 3.5.juta ton P per tahun terangkut dan diendapkan di laut sebagai Kalsiumposfat yang sukar larut.

Hanya sebagain kecil P yang kembali ke tanah melalui guano yang dihasilkan burung laut dan oleh manusa melalui ikan yang dikonsumsinya.

Hasil uraian P-alam berupa senyawa posfat yang berada dalam sisitem tanah dengan berbagai jenjang kelarutan. Bentuk posfat ini akan dikonsumsi jasad hidup, dijerap liat tanah, bahan organik, kation Al, Fe, Mn, Ca, dan kation lain.

Posfat yang dikonsumsi akan dilibatkan dalam sintesis protoplasma dasn kembali memasuki sisitem tanah setelah diurai oleh bakteriposfat.

Pada pH rendah posfor terfiksasi oleh ion aluminium sedangan pada pH tinggi terfiksasi oleh besi (Fe).

Oleh karenanya ketersediaan P selalu menjadi faktor pembatas untuk daerah hutan hujan tropis.

Beberapa faktor yang berperan dalam pengendalian ketersediaan hara posfor adalah:
  1. pemupukan P
  2. pelapukan bahan yang mengandung P
  3. serapan akar
  4. jasad renik
  5. jerapan dan pencucian
Gejala kekurangan P pada tanaman memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Pertumbuhan lambat
  2. Menguningnya daun (terutama pada daun tua)
  3. Daun berwarna hijau gelap
  4. Guguir daun
  5. Berbuah sedikit dan perkembangan biji terhambat.
Gambar Defisiensi Posfor pada daun anggur
Gambar Defisiensi Posfor pada daun anggur
Gambar Defisiensi posfor pada tomat
Gambar Defisiensi posfor pada tomat
Kalium

Kalium diambil tanaman dalam bentuk inon K. Ion ini tidak disintesa menjadi komponen tertentu.

Tanah dapat mengandung lebih kurang 900-1400 pound per 1 m3 tanah, akan tetapi 90-98% kalium ini terkonsentrasi pada mineral primer dan tidak tersedia bagi tanaman.

Sumber utama K berasal dari pelapukan mineral yang mengandung K.

Kalium dalam tanah dapat dijumpai dalam 3 kemungkinan yaitu:
  1. secara kimi terikat dalam mineral primer tanah
  2. dapat dipertukarkan ataupun diabsorbsi
  3. dalam larutan tanah
Umumnya tanah yang kandungan tanah liatnya tinggi cenderung untuk mengandung kalium yang relatif tinggi juga, dibandingkan dengan tanah berpasir dan organik.

Hanya sekitar 1-10% dari total kalium yang terdapat dalam tanah dapat diambil tanaman, dan hanya 1 sampai 2% dari yang terkandung dalam tanah yang dapat dipertukarkan.

Gambar berikut ini memperlihatkan beberapa bentuk kalium dalam tanah.
Gambar Ketersediaan K dalam tanah
Gambar Ketersediaan K dalam tanah
Kalium merupakan bagian penting dalam tranlokasi gula dan pembentukan pati.

Kandungan Kalium pada sel tetangga juga berperan dalam mengatur membuka dan menutupnya stomata.

Pertumbuhan, perluasan dan ketahanan terhadap penyakit juga dipengaruhi oleh cukup tersedianya hara ini.

Peningkatan ukuran dan kualitas buah-buahan, kacang, dan sayuran juga dipengaruhi oleh ketersedian yang cukup dari unsur ini.

Tanaman kentang, bit gula, ataupun wortel membutuhkan kalium yang cukup besar untuk membantu akumulasi karbohidrat dan translokasi asimilat keluar daun.

Pertumbuhan vegetatif pada tanaman sayuran seperti asparagus dan kol juga membutuhkan kalium dalam jumlah besar.

Gejala kekurangan kalium pada tanaman ditandai oleh:
  1. Pertumbuhan lambat
  2. Ujung daun mengalami nekrosis yang dimulai pada daun muda.
  3. batang lemah
  4. buah kecil kecil
Walaupun kalium penting untuk semua tanaman tingkat tinggi dan rendah akan tetapi hara ini bukan merupakan bagian penyusun tubuh tanaman.

Kalium tidak membentuk ligand (molekul organik kompleks) yang terutama berfungsi sebagai aktivator suatu enzim atau kofaktor dari sekitar 46 enzim.

Kalium disimpan dalam jumlah besar di vakuola.

Kalium juga berperam dalam membantu memelihara potensial osmotis dan pengambilan air, dan berpengaruh positif terhadap penutupan stomata.

Tanaman yang cukup mengandung K hanya sedikit mengalami kekurangan air.

Kalium juga berfungsi menyeimbangkan muatan-muatan anion dan mempengaruhi penyerapan dan transportasinya.

Beberapa hasil penelitian memperlihatkan bahwa tanaman yang cukup mengandung kalium dapat mengurangi berjangkitnya penyakit (misalnya Verticillium yang menyebabkan layu pada kapas) dan jatuh rebah pada tanaman.

Telah diketahui kalium berperan dalam fotosintesis karena secara langsung meningkatkan pertumbuhan dan indeks luas daun.

Tingkat kritis K dalam jaringan tumbuhan relatif tinggi, biasanya sekitar 1.0% atau 4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan titik kritis posfor.

Hampir seluruh kalium diserap pada fase pertumbuhan vegetatif hanya sedikit yang ditrasfer ke buah atau biji.

Tanaman juga membutuhkan kalsium, magnesium, dan sulfur untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

Gambar dibawah ini memperlihatkan gejala kekurangan kalium pada paprika, dan daun labu.
Gambar Gejala kekurangan kalium pada paprika
Gambar Gejala kekurangan kalium pada paprika
Gambar Gejala kekurangan kalium pada daun labu
Gambar Gejala kekurangan kalium pada daun labu
Kalsium

Umumnya tanah-tanah mineral banyak mengandung calsium, karena mineral yang mengandung unsur ini pada kerak bumi cukup banyak misalnya apatit (Ca3 (PO4), kalsit (CaCO3), dan dolomit (CaCO3, MgCO3).

Kalsium merupakan unsur esensial yang paling tidak bergerak. Pengambilan dan transpor terjadi secara pasif.

Dibandingkan dengan ion-ion lain hanya sedikit ataupun tidak ada pengangkutan di dalam floem. Status kalsium dalam tanah berhubungan dengan pH yang pengaruhnya lebih besar dibandingkan dengan pengaruh ketersediaannya.

Kalsium diambil tanaman dalam bentuk ion Ca++. Senyawa ini merupakan bagian esensial dari dinding sel.

Kalsium disimpan pada jaringan tanaman dan tidak dapat diremobilisasi.

Kacang tanah membutuhkan kalsium yang tinggi untuk perkembangan polongnya.

Pengaplikasian unsur ini melalui daun sering digunakan petani untuk mengurangi bercak-bercak hitam pada buah-buahan.

Gejala defisiensi Kalsium pertama sekali terlihat pada daun-daun muda, sebagian daun akan berubah bentuk dan mengalami klorosis, sedangkan pada organ yang lebih tua jarang teramati gejala defisiensi. Hasil ini memperlihatkan bahwa kalsium tidak didistribusikan ke bagian yang lebih muda.
Gambar Buah apel yang mengalami kekurangan kalsium
Gambar Buah apel yang mengalami kekurangan kalsium
Gambar diatas memperlihatkan buah apel yang kekurangan kalsium kulit buahnya lembek pada beberapa bagian buah dan kemudian membusuk. Oleh karenanya jika dalam pertumbuhan buah kekurangan hara kalsium ini buah akan busuk.

Secara umum ciri-ciri gejala defisiensi kalsium adalah:
  1. Tip burn pada daun muda
  2. Matinya titik tumbuh pada batang juga akar
  3. Gejala abnormal dari daun (berwarna lebih gelap)
  4. Mati pucuk
  5. Batang lemah
  6. Buah busuk
Gambar mengeringnya buah tomat akibat kekurangan kalsium
Gambar mengeringnya buah tomat akibat kekurangan kalsium
Magnesium

Magnesium tanah berasal dari pelapukan mineral primer (yaitu biotit, serpentin, hornblende, dolomit, dan olivin).

Seperti kation yang lain tanaman mengambil magnesium dalam bentuk ion Mg ++.

Klorofil yang merupakan pabrik berlangsungnya fotosintesis mengandung magnesium sebagai intinya.

Unsur ini bersifat mobil dan merupakan aktivator beberapa enzim.

Pengambilan magnesium dilakukan secara aktif dan pasif. Transpor terutama terjadi di dalam aliran tranpirasi.
Gambar Daun jeruk yang mengalami defisiesi magnesium
Gambar Daun jeruk yang mengalami defisiesi magnesium
Dibandingkan dengan kalsium, maka magnesium lebih aktif bergerak, dan dari beberapa penelitian diketahui bahwa unsur ini banyak terdapat pada pembuluh floem (transpor aktif).

Gejala defisiensi magnesium:
  1. Menguningnya tulang daun tertama pada daun tua
  2. Keriting pada tepi daun
  3. Kuning sepanjang tulang daun.

Unsur Hara Mikro

Mikronutrien dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil. Yang termasuk kedalam kelompok mikronutrien ini adalah zinkum, besi, mangan, kuprum, boron, molibdenum, klor dan nikel.

Zinkum

Gejala kekurangan:
  1. Menurunnya pertumbuhan, batang menjadi berbentuk roset
  2. Terhalangnya pembentukan buah
  3. Klorosis pada intervenal daun
  4. Dieback
Besi

Besi menyusun sekitar 5% dari kerak bumi dan umumnya dijumpai dalam tanah. Besi berasal dari mineral primer ferro-magnesium silikat.

Pada tanah yang drainasenya jelek bentuk besi tereduksi (ferro= Fe2+) meningkat, bahkan sampai ketingkat beracun.

Kondisi inilah yang perlu menjadi pertimbangan sistem pengairan pada budidaya padi sawah.

Diambil tanaman dalam bentuk ion Fe++, dan dibutuhkan untuk pembentukan klorofil. Defisiensi Fe dapat terjadi pada tanah yang mempunyai pH tinggi.

Gejala kekurangan unsur ini pada tanaman adalah:
  1. Klorosis pada interveinal
  2. Dalam beberapa kasus ranting mati
Gambar Defisiensi besi pada daun bunga rose
Gambar Defisiensi besi pada daun bunga rose
Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa gejala kekurangan besi ini akan mengakibatkan daun tanaman menguning, karena gagalnya membentuk butir hijau daun.
Gambar Defisiensi besi pada rerumputan
Gambar Defisiensi besi pada rerumputan
Gambar Defisiensi besi pada daun jeruk
Gambar Defisiensi besi pada daun jeruk
Pada gambar diatas dapat dilihat menguningnya daun jeruk pada daun nomor 2 dan 3 sebagai akibat kekurangan besi.

Mangan

Mangan merupakan aktivator beberapa enzim, dan juga berperan dalam pembentukan klorofil.

Mangan juga mengaktifkan asam indolasetat oksidase (IAA) dalam jaringan tanaman seperti Fe.

Mn juga relatif tidak bergerak dan teristimewa ditranslokasikan ke jaringan muda atau meristimatik.

Gajala kekurangan:
  1. Klorosisi pada daun muda
  2. Penguningan secara gradasi
Gambar Gejala defisiensi mangan
Gambar Gejala defisiensi mangan
Kuprum

Merupakan aktivator dari beberapa enzim, dan memegang peranan penting pada produksi vitamin A.

Gejala kekurangan hara cuprum adalah:
  1. pertumbuhan kerdil
  2. mati pada pucuk terminal
  3. hipo pikmentasi
  4. mati dan keriting pada ujung daun
Boron

Boron terdapat dalam tanah pada tingkatan yang sangat rendah sebagai asam borat (HBO3) dan diabsorbsi oleh partikel tanah sebagai borat.

Pengambilan B diperkirakan sebagai asam borat yang tidak berdissosiasi, tampaknya terutama pasif melalui aliran transpirasi.
Gambar Gejala defisiensi boron pada daun anggur
Gambar Gejala defisiensi boron pada daun anggur
Gambar Gejala toksisitas boron pada daun tomat
Gambar Gejala toksisitas boron pada daun tomat
Boron mempengaruhi perkembangan sel dan mengendalikan transpor gula dan pembentukan polisakarida.

Fungsi lainnya selalu dikaitkan dengan sisi aktif fosforilasi untuk menghambat pembentukan pati yang mencegah polimerisasi gula.

Dari beberapa hasil penelitian boron merupakan unsur tidak mobil.

Gejala kekurangan:
  1. Matinya pucuk
  2. Klorosis pada daun
  3. Bintik kuning pada buah atau umbi
  4. menurunnya pembungaan atau kegagalan polinasi
Molibdenum

Molibdenun diabsorbsi tanaman dalam bentuk ion molibdat atau MoO 2-.

Ion ini digunakan dalam proses transformasi senyawa nitrogen. Perubahan nitrogen nitrat kedalam asam amino dilakukan oleh enzim nitrat reduktase yang pembentukannya membutuhkan molibdenum.

Konsentrasi yang tinggi dari unsur ini pada pakan ternak dapat menyebabkan keracunan ternak.
Gambar Gejala defisiensi molibdenum
Gambar Gejala defisiensi molibdenum
Gejala kekurangan molebdenum hampir sama dengan gejala kekurangan nitrogen, hal ini disebabkan hara molibdenum ini berfungsi sebagai transfer/pmbentukan senyawa N (Gambar diatas).

Gagalnya pembentukan senyawa N pada tanaman yang kekurangan Mo, menyebabkan terhambatnya pertumbuhan vegetatif tanaman tanaman menjadi kerdil.

Gejala kekurangan molibdenum adalah sebagai berikut:
  1. Pertumbuhan terhambat, pada tanaman kekurangannya selalu memberikan indikasi kekurangan hara N, sebab ion ini berperan dalam proses konversi dan pembentukan senyawa N.
  2. Menggulungnya daun
  3. Gugurnya bakal bunga
  4. Bintik kuning pada jeruk
Klor

Klor diambil tanaman dalam bentuk ion klorida (ion Cl-). Ion ini dibutuhkan dalam reaksi fotosintesis dan pengaturan potensial turgor sel tanaman.

Umumnya gejala defisiensi Cl jarang terjadi pada tanaman, yang umum adalah gejala toksisitas.

Nikel

Nikel diabsorbsi tanaman dalam bentuk kation divalen (Ni++). Nikel merupakan bagian dari enzim urease, yang berperan dalam konversi amonia urea jaringan tanaman, oleh karenanya ion ini dibutuhkan dalam proses metabolisme nitrogen.

Nikel dibutuhkan tanaman dalam jumlah relatif sedikit. Konsentrasi kritis pada tanaman sekitar 0.1 ppm.

Gejala defisiensi adalah:
  • Klorosis pada daun muda
  • Matinya titik tumbuh
Gambar Daun yang mengalami keracunan klor
Gambar Daun yang mengalami keracunan klor

Keseimbangan hara

Keseimbangan hara untuk pertumbuhan optimum tanaman. Kelebihan dan kekurangan menyebabkan efek negatif pada tanaman.

Misalnya kelebihan magnesium pada tanah dapat menghambat pengambilan kalium.

Rendahnya pemberian fosfor dapat menginduksi defisiensi zinkum.

Pemeliharaan keseimbangan hara dalam tanah merupakan faktor penting dari tujuan perbaikan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Manajemen hara menjadikan tidak budidaya tanaman menjadi lebih ekonomis, efisiensi, dan tidak merusak lingkungan.

Analisis kebutuhan hara

Gejala keracunan dari pemberian pupuk maupun pestisida dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan perakaran tanaman. Untuk menghindari kesalahan dalam aplikasi pemberian kedua bahan kimia tersebut dibutuhkan analisa seberapa besar kebutuhan satu unsur yang mendukung pertumbuhan tanaman.

Analisa kesuburan tanah dan analisa daun selalu digunakan untuk memverifikasi defisiensi hara atau gejala keracunan.

Analisis ini merupakan alternatif terbaik dalam memprediksii kebutuhan hara tanaman sebelum tanaman mengalamii cekaman (toksisitas) ataupun defisiensi.

Analisis tanah dan jaringan tanam keduanya akan memberikan alternatif untuk mengatasi kendala keterbatasan media tumbuh tanaman. Informasi yang lengkap ini akan mengurangi kegagalan panen pada budidaya yang dilakukan.

Analisis jaringan tanaman akan memberikan informasi status hara pada tanah dan tanaman.

Keberhasilan dari analisa tanah dan jaringan tanaman sangat tergantung pada:
  1. Metode pengumpulan dan sampel yang representatif
  2. Analisis yang akurat
  3. Kebenaran interpretasi hasil analisis

Analisis tanah

Gambar dibawah ini diberikan tahapan dari proses analisis tanah.

Diawali dengan proses pengambilan sampel tanah yang mewakili.

Tanah yang diambil adalah tanah yang akan digunakan sebagai media tumbuh tanaman.
Untuk akurasi umumnya dibutuhkan lebih kurang setengah kilogram tanah per satu titik sampel.
Gambar Tahapan proses analisis tanah
Gambar Tahapan proses analisis tanah
Tanah yang diambil bersifat heterogen, tidak tertumpu pada satu bagian saja dari hamparan tanah yang tersedia.

Untuk menghasilkan data yang akurat umumnya dibutuhkan lebih kuran 20 titik sampel per satu hektar lahan.

Kemudian 10 sampel tanah dijadikan satu dan sepuluh lainnya pada kelompok kedua.

Perlu diketahui hasil analis tanah ini tidak mengukur hara yang tersedia untuk tanaman akan tetapi merupakan indeks dari sejumlah hara dalam tanah

Analisis jaringan tanaman

Analisis tanaman dimulai dengan melakukan pengumpulan sampel yang mewakili.

Pengelompokan sampel tanaman dilakukan berdasarkan spesies, fase pertumbuhan tanaman, dan dalam bentuk apa ion hara yang akan diamati

Untuk lebih jelasnya prosedur kera dari analisis tanaman dapat diperhatikan gambar dibawah ini.
Gambar Tahapan proses analisis jaringan tanaman
Gambar Tahapan proses analisis jaringan tanaman
Umumnya kandungan hara dalam tanaman berfluktuasi sejalan dengan fase pertumbuhannya.

Kandungan hara lebih kecil pada tanaman yang tua, dan bervariasi diantara bagian-bagian tanaman.

Misalnya jaringan reproduksi umumnya memiliki konsentrasi posfor yang lebih tinggi dibandingkan dengan jaringan vegetatif.

Analisis jaringan sangat menolong kita untuk lebih memahami kondisi pertanaman kita.

Sampel yang diambil merupakan sampel yang berasal dari dua areal yang berbeda, satu areal dimana tanaman dapat tumbuh normal dan satu lagi pada daerah yang mengalami gejala.