Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Inspeksi dan Pengendalian Pupuk

Nilai ekonomi pupuk

Nilai suatu pupuk ditentukan oleh kandungan haranya. Pemilihan apakah membeli pupuk majemuk atau tunggal, seperti NaNO3, (NH4) 2(SO4)4, dan sebagainya adalah lebih memperhitungkan kadara hara yang dibutuhkan dalam jumlah tinggi.

Kadar analisa pupuk merupakan pilihan utama, karena semakin tinggi analisa kadarnya terutama dari pupuk majemuk, makin banyak hara yang dapat diperoleh setiap dolarnya.
Inspeksi dan Pengendalian Pupuk
Penggunaan pupuk majemuk beranalisa tinggi belum familiar digunakan di Indonesia. Para petani masih mengunakan pupuk tunggal yang kebetulan berkadar N dan P tinggi.

Pupuk majemuk dipakai oleh beberapa pengusaha perkebunan besar. Macan pupuk yang digunakan sangat terbatas dan analisa yang umum mereka pakai 12-12-12 atau 20-20-20.

Harga pupuk persatuan unsur yang termurah adalah K, menyusul P dan kemudian N. Hal ini perlu diperhatikan bila membeli pupuk.

Kita dapat juga menghemat dengan membeli pupuk tunggal yang kemudian mengaplikasikannya secara terpisah kedalam tanah.

Untuk pupuk superfosfat biasanya diberikan secara tersendiri. Bila pupuk kandang tersedia, penggunaan superfosfat, kapur , dan pupuk kandang sangat dianjurkan.

Natrium nitrat dan (NH4) 2(SO4)4 serta pupuk N serupa digunakn sebagi pupuk yang diberikan secara “ top dressing” atau side dressing.

Pupuk dapat diberikan secara terpisah, asalkan cara pemberiannya tepat, dengan demikian biaya pencampuran dapat dihemat.

Salah satu kendala jika ingin mencampur sendiri pupuk adalah ketersediaan bahan baku yang ekonomis dan murah.

Disamping itu dibutuhkan pengetahuan khusus dalam metode pencampurannya, bergantung sifat dari pupuk itu sendiri.

Pencampuran juga membutuhkan bahan kodisioner agar campuran merata/homogen. Bahan ini juga

relatif sulit dipasaran. Oleh karenanya alasan ekonomis untuk mencampur sendiri pupuk dinilai kurang ekonomis.

Pergerakan pupuk dalam waktu

Agar dapat mengetahui cara yang paling tepat untuk memberikan pupuk ke tanah maka terlebih dahulu kita harus mengetahui bagaimana gerakan dari pupuk tersebut dalam tanah.

Sebagai contoh fosfat merupakan hara yang tidak mobil, terkecuali pada tanah yang berpasir.
Akibatnya, ia dapat diabsorpsikan tanaman secara efektif, pupuk tersebut harus ditempatkan dalam daerah perkembangan akar.

Pemberian melalui penyebaran diatas tanah, tidak mensuplai P bagi akar-akar tanaman yang tumbuhnya dalam.

Disamping imobilitas fosfat, jumlah pupuk yang diperlukan selama musim tanam, dan dapat hilang karena pencucian merupakan beberapa pertimbangan kapan pupuk harus diberikan.

Berbeda dengan kalium dan nitrogen (bentuk tertentu), kedua unsur ini bertendensi untuk mobil dan bergerak keluar dari daerah penempatan semula. Gerakan umumnya adalah vertikal, mengikuti gerakan air, apakah keatas atau kebawah.

Translokasi ini sangat mempengaruhi waktu dan cara penempatan N dan K. Misalnya sangatlah tidak sarankan untuk memberikan N sekaligus karena kemungkinanpencucian.

Pupuk nitrat dapat diberikan melalui “top dressing” disebar di atas permukaan tanah. Alasan ini digunakan karena sifat nya yang mudah larut dan bertendensi untuk bergerak ke bawah.

Gerakan nitrogen dan juga K perlu dipertimbangkan dalam penempatan pupuk, terutama ditinjau dari penempatan biji.

Bila pupuk ditempatkan secara larikan dibawah biji, gerakan garam keatas bersama air kapiler dapat merusak pertanaman. Hujan setelah tanam yang kemudian disusul dengan musim kering panjang memungkinkan terjadinya kerusakan. Oleh karenanya jangan menempatkan pupuk langsung diatas biji atau dipermukaan tanah.