Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jenis-Jenis Limbah Pariwisata

Jenis-jenis limbah pariwisata dapat dibedakan menjadi dua, yaitu berdasarkan wujudnya dan berdasarkan senyawanya.

Jenis-Jenis Limbah Berdasarkan Wujudnya

Limbah yang dihasilkan dari industri pariwisata banyak sekali jumlahnya. Jenis-jenis limbah pariwisata berdasarkan wujudnya dibedakan kembali menjadi limbah padat, limbah cair, limbah gas, dan limbah suara.

a. Limbah Padat

Limbah padat atau sampah merupakan limbah yang memiliki wujud padat. Limbah padat biasanya kering dan tidak melakukan penyebaran secara luas seperti limbah cair. Limbah padat misalnya, sampah plastik, sampah sisa makanan, sampah sayuran, pecahan kaca, sampah kertas, sampah kardus, sampah kayu, dan sampah logam. Limbah padat pada daerah wisata bisa kita temukan di tepi pantai, di gunung, dan ditempat wisata hiburan keluarga. Jika para pengunjung daerah wisata tidak membuang sampah pada tempatnya mereka akan menumpukkannya dipinggir pantai, didekat pepohonan, ataupun di jalan dan akhirnya akan mencemari tempat wisata itu.

Plastik yang dibuang di tepi pantai termasuk jenis limbah padat
Gambar Plastik yang dibuang di tepi pantai termasuk jenis limbah padat
b. Limbah Cair

Limbah cair merupakan limbah suatu kegiatan yang memiliki wujud cair. Berbagai jenis limbah cair dapat mengandung bahanlain di dalamnya, seperti bahan padatan, bahan buangan yang membutuhkan oksigen, mikroorganisme, komponen organik sintetik, nutrien tanaman, minyak, senyawa organik dan mineral, bahan radioaktif, dan panas. Untuk mengetahui air terpolusi atau tidak, diperlukan pengujian untuk menentukan tingkat polusi air. Pengujian tersebut meliputi pengujian nilai pH, keasaman, dan akalinitas, suhu, warna, bau dan rasa, jumlah padatan, nilai BOD/COD, pencemaran mikroorganisme patogen, kandungan minyak, kandungan logam berat, dan kandungan bahan radioaktif. Limbah cair dari industri pariwisata dapat berasal dari berbagai kegiatan pariwisata, contohnya adalah limbah bahan bakar kapal laut, limbah bekas cucian, limbah restoran, limbah cair hotel, dan limbah pewarna kain.

Produksi kain menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan baik sebelum dibuang ke perairan
Gambar Produksi kain menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan baik sebelum dibuang ke perairan
c. Limbah Gas

Limbah gas merupakan limbahyang memiliki wujud gas yang di dalamnya mengandung berbagai macam zat kimia. Limbah gas bisanya menyebar-melalui udara dan meluas ke wilayah lainnya. Limbah gas industri pariwisata dapat berasal dari kendaraan bermotor, asap pembuangan restoran, dan peralatan hotel seperti kulkas dan AC. Limbah gas yang dihasilkan dari kegiatan pariwisata tersebut mengandung berbagai gas berbahaya, misalnya karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), sulfur oksida (SOx), dan freon.

Limbah gas industri pariwisata dapat berasal dari pembakaran bahan bakar kapal laut
Gambar Limbah gas industri pariwisata dapat berasal dari pembakaran bahan bakar kapal laut
d. Limbah Suara

Limbah suara merupakan limbah yang berasal dari bunyi yang dihasilkan dari suatu kegiatan atau produksi yang kemudian merambat di udara dan menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitar. Limbah suara pada industri pariwisata misalnya, suara kapal laut, suara knaLpgt, dan sqafaglgggiatan hiburan.

Jenis Limbah Berdasarkan Senyawanya

Jenis-jenis limbah berdasarkan senyawanya dapat dibedakan menjadi limbah organik, limbah anorganik, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

a. Limbah Organik

Limbah organik merupakan limbah yang mengandung unsur karbon atau berasal dari makhluk hidup sehingga mudah membusuk atau terurai dengan aktivitas mikroorganisme baik aerob maupun anaerob. Limbah organik banyak sekali di kehidupan kita, misalnya limbah sisa makanan, kotoran hewan, kulit buah, dan sisa sayuran. Limbah organik barnyak sekali diproduksi oleh perhotelan terutama pada bagian restauran. Limbah tersebut disebut juga dengan limbah domestik.

Sisa makanan termasuk limbah organik
Gambar Sisa makanan termasuk limbah organik
b. Limbah Anorganik

Limbah anorganik merupakan limbah yang tidak dapat atau sulit membusuk serta terurai secara alami. Hal itu disebabkan karena mikroorganisme pengurai yang terdapat pada limbah tersebut mengalami proses yang lama sekali untuk membusukkan bahan tersebut. Contoh limbah anorganik antara lain limbaih plastik, kaca, logam, dan baja.

Kaleng sisa kemasan makanan termasuk dalam limbah anorganik
Gambar Kaleng sisa kemasan makanan termasuk dalam limbah anorganik
c. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Limbah B3 merupakan limbah yang berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia. Limbah yang tergolong B3 mengandung senyawa kimia dan beracun sehingga sangat berbahaya bagi makhluk hidup dan lingkungan, terutama manusia. Berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) merupakan zat, energi, dan/atau komponen lain-yang karena sifat, konsentrasi dan latau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan, merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Kafakteristik limbah yang termasuk B3 antara lain mudah meledak (explosive), mudah terbakar (flammabie), beracun, menyebabkan infeksi, berbahaya (harmful), berbahaya bagi lingkungan (dangerous to environment), dan bersifat korosif (corrosive).

Sifat Limbah B3
Gambar Limbah B3 lebih berbahaya dibandingkan limbah yang lainnya
Limbah B3 umumnya mengandung logam berat yang berbahaya. Beberapa jenis logam berat yang berbahaya tersebut antara lain merkuri (Hg), timbel (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan nikel (Ni). Logam-logam tersebut dapat terakumulasi dan tetap tinggal di tubuh suatu organisme dalam jangka waktu yang lama sebagai racun.

Sekitar 40% dari jumlah B3 yang di hasilkan dari kegiatan manusia di buang ke lingkungan dan hanya sekitar 5% dari timbunan limbah B3 yang diolah dengan standar lingkungan yang baik. Selain dampak langsung pencemaran lingkungan, pengelolaan limbah B3 yang tidak memadai akan melekatkan citra yang kurang baik bagi industri pariwisata indonesia.