Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kecelakaan Kerja dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan

Pengertian Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja diartikan sebagai suatu kejadian yang tidak terduga dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses suatu kegiatan yang telah direncanakan, sedangkan pengertian kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang terjadi terkait dengan pekerjaan, yaitu kecelakaan yang diakibatkan langsung oleh pekerjaan, atau pada saat melaksanakan pekerjaan.

Kecelakaan kerja yang terjadi di sebuah hotel atau jasa pariwisata dapat menyebabkan kerugian besar, antara lain kerusakan sarana produksi, biaya pengobatan, kompensasi akibat kecelakaan kerja, dan pekerja tidak dapat bekerja kembali karena kecacatan yang ditimbulkannya.

Kecelakaan kerja berhubungan erat dengan keselamatan kerja karena kecelakaan kerja adalah Upaya menuju keselamatan kerja. Ketentuan keselamatan kerja seperti tertuang pada Bab III Pasal 3 UndangUndang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 yang menyatakan bahwa tuiuan keselamatan kerja adalah untuk:
  1. mencegah dan mengurangi kecelakaan,
  2. mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran,
  3. mencegah dan mengurangi bahaya peledakan,
  4. memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya,
  5. memberi pertolongan pada kecelakaan, serta
  6. memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.
Berdasarkan Hukum K3 yang dimaksud dengan norma keselamatan kerja adalah sarana atau alat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diduga karena kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang tidak kondusif. Berdasarkan aturan K3, norma keselamatan kerja diharapkan mampu:
  1. menihilkan kecelakaan kerja sehingga mencegah terjadinya cacat atau kematian terhadap pekerja dan mencegah terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja,
  2. mencegah pencemaran lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat kerja, serta
  3. menjadi instrumen yang menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya.

Istilah Terkait dengan Kecelakaan kerja

Beberapa istilah terkait dengan kecelakaan kerja, antara lain sebagai berikut.
  1. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan,, tertutup atauterbuka, bergerak atau tetap, di mana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki kerja untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber-sumber bahaya.
  2. Insiden (near miss) adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan, yang jika sedikit saja keadaan berbeda dapat menyebabkan cedera, kerusakan properti/peralatan, kebakaran, dan lain-lain kecelakaan kerja. Istilah insiden menggambarkan kejadian bahaya terjadi, tetapi belum ada korban.
  3. Accident adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki sehingga mengacaukan proses yangtelah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian, baik korban manusia maupun harta benda. Dikatakan accident jika potensi bahaya terjadi dan ' menimbulkan korban.
  4. Bahaya (hazard) adalah suatu keadaan atau tindakan yang dapat menimbulkan kerugian terhadap manusia, harta, dan benda.
  5. Aman adalah kondisi tidak ada kemungkinan malapetaka (bebas dari bahaya). Danger adalah pernyataan yang menggambarkan adanya potensi bahaya secara relatif. Kondis yang berbahaya mungkin saja ada, tetapi dapat menjadi tidak berbahaya karena telah dilakukan beberapa tindakan pencegahan.
  6. Risiko (risk) adalah pernyataan kemungkinan terjadinya kecelakaan atau kerugian pada period waktu tertentu atau siklus operasi tertentu.
  7. Tindakan tak aman (unsafe action) adalah suatu pelanggaran terhadap prosedur keselamatan yang memberikan peluang terhadap terjadinya kecelakaan.
  8. Keadaan tak aman (unsafe condition) adalah suatu kondisi fisik atau keadaan berbahaya yang dapat Iangsung mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

Jenis dan Akibat Kecelakaan kerja

Jenis kecelakaan kerja yang terjadi di hotel dan jasa pariwisata lainnya cukup banyak bergantung pada jenis pekerjaan dan area kerja. Kemungkinan yang terjadi, antara lain terjatuh, tertimpa benda jatuh, tertumbuk, terjepit, terkilir, terbakar, tersengat arus listrik, terpapar radiasi/panas, dan termakan makanan tercemar.

Kecelakaan kerja terjadi pada bagian tubuh yang terbuka seperti kepala, leher, badan, anggota gerak atas, dan anggota gerak bawah. Kecelakaan kerja dapat mengakibatkan seperti patah tulang, keseleo, memar dan luka dalam, luka bakar (arus listrik, terbakar), luka buka, keracunan akut, dapat akibat makanan atau akibat racun kimia, mati lemas, cacat fisik, terkena paparan radiasi, dan kekurangpekaan pancaindra terhadap sesuatu.

Penyebab Kecelakaan kerja

Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut.

a. Mesin atau peralatan yang digunakan saat melakukan pekerjaan, antara lain:
  1. Peralatan tidak layak pakai, rusak, atau tidak aman.
  2. Pisau tumpul atau tidak tajam.
  3. Peralatan tidak bersih saat digunakan.
  4. Penggunaan alat yang sama untuk proses yang berbeda.
b. Bahan-bahan yang digunakan saat melakukan pekerjaan, antara lain:
  1. Tertukar antara bahan makanan dan bahan lain (additive).
  2. Jumlah bahan additive yang digunakan berlebihan.
c. Lingkungan yang tidak aman, baik berasal dari fasilitas fisik, kirnia, biologis maupun mikrobiolpgis, antara lain:
  1. Ada api di tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakan
  2. Lantai licin atau terpapar minyak.
  3. Air dan aliran listrik berdekatan.
  4. Gedung kurang standar.
  5. Area kerja panas akibat proses pengolahan makanan.
  6. Pencahayaan dan ventilasi yang kurang atau berlebihan.
  7. Sistem peringatan berlebihan.
  8. Sistem penyimpanan bahan njakanan yang tidak sesuai standar higiene.
  9. Sifat pekerjaan yang berpotensi bahaya.
d. Faktor manusia, misalnya melakukan tindakan tidak aman (unsafe action). Kecelakaan kerja yang disebabkan oleh faktor manusia, antara lain sebagai berikut.
  1. Kecerobohan.
  2. Tidak rnengikuti prosedur kerja.
  3. Kurang perhatian.
  4. Bersenda gurau di area kerja.
  5. Kelelahan, bekerja berlebihan, atau melebihi kekuatan diri.
  6. Kurang pendidikan.
  7. Kurang pengalaman.
  8. Salah pengertian terhadap tugas.
  9. Kurang terampil.
  10. Menialankan pekerjaan tanpa kewenangan.

Pencegahan Kecelakaan Kerja

Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kecelakaan kerja, antara lain sebagai berikut.
  1. Mengidentifikasi faktor penyebab yang dapat menimbulkan bahaya (identifikasi risiko bahaya). Dilakukan melalui pengamatan saksama kemungkinan bahaya dari keempat faktor penyebabkecelakaan kerja.
  2. Melakukan pengendalianteknis (engineering control) seperti eliminasi, substitusi, isolasi, perubahan proses (pengadaan infrastruktur termasuk APD), instruksi kerja, sosialisasi atau pelatihan, serta pemantauan dan pengukuran.
  3. Melakukan pengendalian administratif seperti pengurangan waktu kerja, rotasi, dan mutasi.

Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)

Penanganan kecelakaan kerja dilakukan terutama untuk menolong korban yang mengalami kecelakaan kerja sesegera mungkin sebelum dibawa ke dokter atau rumah sakit. Pertolongan sesegera mungkin yang diberikan pada korban dalam kondisi darurat akibat kecelakaan kerja dikenal dengan istilah Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K). Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik lndonesia Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Tempat Kerja Bab I ayat 1 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan P3K adalah upaya memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat kepada pekerja buruh/dan/atau orang lain yang berada di tempat kerja yang mengalami sakit atau cedera di tempat kerja. Berikut ini beberapa tujuan P3K.
  1. Menyelamatkan nyawa korban.
  2. Meringankan penderitaan korban.
  3. Mencegah cedera/penyakit menjadi lebih parah.
  4. Mempertahankan daya tahan korban sampai pertolongan lebih baik diberikan (misalnya, dari dokter atau rumah sakit).
  5. Membantu mencarikan pertolonganiebih lanjut.
Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik lndonesia Nomor 15 Tahun 2008 dinyatakan bahwa pengusaha waiib menyediakan petugas P3K dan fasilitas P3K di tempat kerja. Petugas P3K yang dimiliki harus memiliki kriteria berikut.
  1. Bekerja di perusahaan bersangkutan.
  2. Sehat jasmani dan rohani.
  3. Bersedia ditunjuk sebagai petugas P3K.
  4. Memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar P3K yang dibuktikan melalui sertifikat.
Fasilitas P3K yang harus dimiliki, antara lain sebagai bérikut.
  1. Ruang P3K.
  2. Kotak P3K.
  3. Alat evakuasi dan alat transportasi.
  4. Fasilitas tambahan seperti alat pelindung diri dan alat pelindung khusus lainnya.
Gambar Isi kotak P3K
Gambar Isi kotak P3K

Gambar Alat evakuasi
Gambar Alat evakuasi

    Cara Memberikan P3K

    Cara memberikan pertolongan pertama pada kasus kecelakaan kerja dibidang perhotelan dan jasa pariwisata antara lain sebagai berikut.

    a. Luka Bakar

    Luka bakar merupakan jenis kecelakaan yang dapat disebabkan oleh api, listrik, bahan kimia, radiasi, gesekan, sinar matahari, dan benda atau cairan panas. Saat bekerja di dapur, luka bakar dapat disebabkan, antara lain oleh sentuhan dengan peralatan panas, air panas, percikan minyak, listrik, bahan kimia pembersih, dan terbakar oleh api. Berdasarkan tingkat keparahan luka atau seberapa besar kerusakan yang diakibatkan pada kulit dan di bawah kulit, luka bakar dibedakan atas:

    Gambar Luka bakar tingkat I, II, dan III
    Gambar Luka bakar tingkat I, II, dan III
    1) Luka Bakar Tingkat I

    Luka bakar tingkat I disebut luka bakar ringan, yaitu luka bakar yang terjadi pada lapisan luar kulit paling luar (epidermis). Tanda-tandanya adalah kulit memerah dan mungkin muncul bengkak dan rasa sakit.

    2) Luka Bakar Tingkat II

    Luka bakar tingkat II terjadi jika luka menembus ke lapisan kulit kedua (dermis). Luka bakar tingkat II ditandai oleh kulit melepuh dan sangat kemerahan, tampak bercak-bercak, timbul pembengkakan, dan rasa sakit pada kulit yang terbakar.

    3) Luka Bakar Tingkat III

    Luka bakar tingkat III merupakan luka bakar yang paling parah karena terjadi pada semua lapisan kulit sehingga lemak saraf, otot dan bahkan tulang mungkin terpengaruh. Ditandai dengan beberapa bagian hangus atau tampak putih kering, rasa sakit yang amat, atau tidak terasa sakit sama sekali jika terjadi kerusakan saraf yang berat.

    Gambar Pertolongan pertama pada pasien yang berhenti bernafas
    Gambar Pertolongan pertama pada pasien yang berhenti bernafas
    b. Pasien yang Berhenti Bernapas
    1. Letakkan kepala korban dengan dagu mendongak ke atas.
    2. Tarik rahang sampai mulut terbuka.
    3. Tempelkan mulut penolong ke mulut korban sambil memencet hidung atau menutup hidung korban dengan pipi penolong dan tiup mulut korban. Cara lain yang bisa dilakukan adalah tutup mulut korban, tempelkan mulut penolong ke hidung korban lalu tiup. Tiupan diberikan kira-kira 12 kali untuk orang dewasa dan 20 kali untuk anak-anak.
    c. Pasien Mengalami Pendarahan
    1. Tinggikan bagian anggota yang mengalami pendarahan.
    2. Hentikan pendarahan dengan cara menutup luka memakai kasa kompres steril atau bahan bersih lainnya lalu tekan kuat-kuat dengan tangan sampai pendarahan berhenti.
    3. Cegah infeksi dengan cara membersihkan luka, jika luka sudah berdarah bersihkan bagian sekeliling luka dengan air yang sudah dimasak.
    4. Cegah terjadinya shock dengan cara:
      • Selimuti pasien dan hindarkan dari lantai serta udara dingin.
      • Usahakan pasien tidak melihat lukanya.
    5. Cegah kerusakan jaringan lebih lanjut dan segera dibawa ke dokter.
    d. Korban Patah Tulang

    Korban patah tulang dapat terjadi akibat terjatuh dari ketinggian atau terpeleset dan terbentur benda saat melakukan pekerjaan di ruang pengolahan makanan. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menolong korban yang mengalami patah tulang adalah Sebagai berikut.
    1. Jangan menggerakkan atau memindahkan korban, tunggu sampai pertolongan medis datang. Jika korban harus dipindahkan dari tempat yang membahayakan, maka pada pasangkan pembelat (bidai) sebelum menggerakkan atau mengangkat penderita.
    2. Upayakan korban terhindar dari hambatan pernapasan, jika diperlukan lakukan pernapasan buatan.
    3. Jangan letakkan bantal di bawah kepala, tetapi letakkan di kiri kanan kepala untuk menjaga agar leher tidak bererak.