Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Persyaratan Kesehatan Kerja

Persyaratan kesehatan kerja meliputi persyaratan ruang hotel dan penyakit akibat kerja.

Persyaratan Ruang Kerja

Adapun persyaratan ruang hotel yang sehat adalah sebagai berikut.

a. Adanya Air Bersih

Kebutuhan air bersih pada suatu hotel sangat penting sekali. Jika air di hotel tersebut tidak bersih maka costumer atau pelanggan tidak mau menginap di hotel tersebut. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.

Air bersih harus memenuhi persyaratan fisika, kimia, mikrobiologi, dan radioaktif 'sesuai dengan Kepmenkes No. 907/SK/VII/2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum.

Tata cara pelaksanaan adanya air bersih adalah sebagai berikut.
  1. Air bersih dapat diperoleh dari PAM, sumber air, tanah, atau sumber lain yang telah diolah sehingga memenuhi persyaratan.
  2. Distribusi air harus menggunakan pipa.
  3. Sumber air bersih dan saluran distribusinya harus bebas dari pencemaran fisik, kimia, dan bakteriologis.
  4. Sampel air bersih untuk pemeriksaan laboratorium diambil dari sumber atau bak penampungan dan dari keran terjauh, diperiksa minimal dua kali dalam satu tahun.
Contoh air bersih yang dapat dikonsumsi
Gambar Contoh air bersih yang dapat dikonsumsi
b. Udara Ruangan yang Séhat

Udara dalam ruangan hotel atau kamar hotel pun menjadi faktor yang penting. Penyediaan ventilasi udara juga sangat diperlukan. Tujuan penyehatan udara-pada ruangan atau kamar hotel adalah upaya yang dilakukan agar suhu dan kelembapan, debu, pertukaran udara, gas pencemar, dan mikroorganisme di ruang kerja memenuhi persyaratan kesehatan.

Kesehatan kerja dapat dilakukan dengan mewujudkan udara ruangan hotel yang sehat
Gambar Kesehatan kerja dapat dilakukan dengan mewujudkan udara ruangan hotel yang sehat
1. Suhu dan Kelembapan

Agar ruang atau kamar hotel memenuhl persyaratan kesehatan perluudilakukan upayasebagai berikut.
  • Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m.
  • Bila suhu > 28°C perlu menggunakan alat penata udara seperti Air Conditioner (AC), kipas angin, dan lain-lain.
  • Bila suhu udara luar < 18°C perlu menggunakan pemanas ruangan.
  • Bila kelembapan ruang kerja:
    • > 60% perlu menggunakan alat dehumidijier.
    • < 40% perlu menggunakan alat humidifier (misalnya, mesin pembentuk aerosol).
2. Debu

Agar kandungan debu di dalam ruang atau kamar hotel memenuhi persyaratan kesehatan, maka perlu dilakukan upaya sebagai berikut.
  • Kegiatan membersihkan ruang dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan kain pel basah atau pompa hampa (vacuum pump).
  • Pembersihan dinding dilakukan secara periodik dua kali dalam satu tahun dan dicat satu kali dalam satu tahun.
  • Sistem ventilasi yang memenuhi syarat.
3. Pertukaran Udara

Agar pertukaran udara ruang dapat berjalan dengan baik, perlu dilakukan upaya sebagai berikut.
  • Untuk ruangan yang ber-AC harus memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai.
  • Ruang ber-AC secara periodik harus dimatikan dan diupayakan mendapat pergantian udara secara alamiah dengan cara membuka seluruh pintu dan jendela atau dengan kipas angin.
  • Membersihkan saringan atau filter udara AC secara periodik sesuai ketentuan pabrik AC.
Ruangan hotel yang ber-AC harus memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai
Gambar Ruangan hotel yang ber-AC harus memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai
4. Gas Pencemar

Agar kandungan gas pencemar dalam ruangan tidak melebihi konsentrasi maksimal, maka perlu dilakukan tindakan sebagai berikut.
  • Pertukaran udara ruang diupayakan dapat berjalan dengan baik.
  • Ruang penting tidak berhubungan langsung dengan dapur.
  • Dilarang merokok di ruang manapun. 
  • Tidak menggunakan bahan bangunan yang mengeluarkan bau menyengat.
5. Mikroorganisme

Agar angka kuman atau mikroorganisme di dalam ruang tidak melebihi batas persyaratan, perlu dilakukan beberapa tindakan sebagai berikut.
  • Karyawan yang menderita penyakit karena ditularkan melalui udara untuk sementara waktu tidak boleh bekerja.
  • Lantai dibersihkan dengan antiseptik.
  • Memelihara sistem ventilasi agar berfungsi dengan baik.
  • Memelihara sistem AC sentral.
c. Pengelolaan Limbah Hotel

Pengelolaan limbah hotel terdiri dari dua jenis, yaitu pengelolaan limbah padat dan limbah cair.

1. Limbah Padat atau Sampah

Limbah padat atau sampah adalah sebuah buangan yang berbentuk padat termasuk buangan yang berasal dari kegiatan perhotelan.
  • Setiap hotel harus dilengkapi dengan jumlah tempat sampah yang cukup, kuat, ringan, tahan karat, kedap air, memiliki permukaan yang halus pada bagian dalamnya, dan dilengkapi dengan penting sebagai tempat penutup.
  • Sampah kering dan sampah basah ditampung dalam tempat yang terpisah.
  • Tersedia tempat pengumpulan sampah sementara yangmemenuhi syarat.
  • Membersihkan ruang dan lingkungan hotel minimal dua kali sehari.
  • Mengumpuikan sampah kering dan basah pada tempat yang berlainan dengan menggunakan kantong plastik warna hitam.
  • Mengamankan limbah padat sisa kegiatan pekerjaan.
Tempat sampah sangat penting sebagai tempat limbah padat atau sampah perkantoran
Gambar Tempat sampah sangat penting sebagai tempat limbah padat atau sampah perkantoran
2. Limbah Cair

Limbah cair adalah buangan yang berbentuk cair termasuk tinja.
  • Kualitas effiuen harus memenuhi syarat sesuai ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
  • Saluran limbah cair harus kedap air, dan tertutup sehingga limbah cair dapat mengalir denga lancar dan tidak menimbulkan bau.
  • Semua limbah cair harus dilakukan pengolahan lebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan minimal dengan septic tank.
d. Pengaturan Cahaya Hotel

Jumlah pencahayaan pada bidang kerja diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif. Intensitas cahaya di ruang minimal 100 lux. Agar memenuhi persyaratan kesehatan tindakan sebagai berikut.
  1. Pencahayaan alam atau buatan diupayakan tidak menimbulkan kesilauan dan memiliki intensitas sesuai dengan peruntukannya.
  2. Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang optimum dan bola lampu harus sering dibersihkan.
  3. Bola lampu yang tidak berfungsi dengan baik segera diganti.
Pencahayaan yang baik memberikan kenyamanan dan kesehatan bagi tamu hotel
Gambar Pencahayaan yang baik memberikan kenyamanan dan kesehatan bagi tamu hotel
e. Pengendalian Vektor Penyakit

Vektor penyakit adalah hewan yang dapat menjadi perantara penular berbagai penyakit tertentu (misalnya, serangga). Reservoar (pejamu), penyakit adalah hewan yang di dalam tubuhnya terdapat kuman penyakit yang dapat ditularkan kepada manusia (misalnya, tikus).

Tata cara pelaksanaan pengendalian vaktor penyakit adalah sebagai berikut.

1. Pengendalian secara fisika:
  • Konstruksi bangunan tidak memungkinkan masuk dan berkembang biaknya vektor dan reservoar penyakit ke dalam ruang kerja dengan memasang alat yang dapat mencegah masuknya serangga dan tikus.
  • Menjaga kebersihan lingkungan sehingga tidak terjadi penumpukan sampah dan sisa makanan.
  • Pengaturan peralatan dan arsip secara teratur.
  • Meniadakan tempat perindukan (sarang) serangga dan tikus.
Penyemprotan untuk pengendalian serangga dan tikus vektor penyakit harus rutin dilakukan
Gambar Penyemprotan untuk pengendalian serangga dan tikus vektor penyakit harus rutin dilakukan
2. Pengendalian dengan bahan kimia, yaitu dengan melakukan, penyemprotan, pengasapan, memasang umpan, dan abatesasi pada penampungan air bersih.

f. Menata Ruang dan Bangunan

Bangunan hotel yang kuat, terpelihara, betsih, dan tidak memungkinkan terjadinya gangguan kesehatan dan kecelakaan. Berikut persyaratan ruang dan bangunan pada hotel.
  1. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin, dan bersih.
  2. Setiap orang mendapatkan ruang udara minimal 10 m3/karyawan.
  3. Dinding bersih dan berwarna terang, permukaan dinding yang selalu tei'kena percikan air terbuat dari bahan yang kedap air.
  4. Langit-langit kuat, bersih, berwarna terang, dan ketinggian minimal 2,50 m dari lantai.
  5. Atap kuat dan tidak bocor.
  6. Luas jendela, kisi-kisi, atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya minimal 1/6 kali luas lantai.
g. Adanya Toilet

Toilet wanita dan pria pada hotel terpisah. Setiap hotel harus memiliki toilet dengan jumlah wastafel, jamban, dan peraturan yang sesuai dengan jumlah kamar hotel dan ruangan lainnya.

h. Pengaturan Instalasi

Instalasi adalah penjaringan pipa atau kabel untuk fasilitas listrik, air limbah, air bersuh, telepon, dan lain-lain yang diperlukan untuk menunjang kegiatan rutin dihotel.

Persyaratan instalasi adalah sebagai berikut.
  1. Instalasi listrik, pemadam kebakaran, air bersih, air kotor, air limbah, dan air hujan harus dapat menjamin keamanan sesuai dengan ketentuan teknis berlaku.
  2. Bangunan yang lebih tinggi dari 1o m atau lebih tinggi dari bangunan lain di sekitarnya harus dilengkapi dengan penangkal petir.
Toilet kantor yang baik
Gambar Toilet kantor yang baik
Tata cara pelaksanaan instalasi adalah sebagai berikut.
  1. Instalasi untuk masing-masing peruntukan sebaiknya menggunakan kode warna dan label.
  2. Diupayakan agar tidak terjadi hubungan silang dan aliran balik antara jaringan distribusi air limbah dengan menggunakan air & bersih sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  3. Jaringan instalasi ditata sedemikian rupa agar memenuhi syarat estetika.
  4. Jaringan instalasi tidak menjadi tempat perindukan (sarang) serangga dan tikus.
Lorong hotel yang dilengkapi pemasangan instalasi dengan baik
Gambar Lorong hotel yang dilengkapi pemasangan instalasi dengan baik

Penyakit Akibat Kerja

Menurut Permennaker No. Per 01/Men/1981, penyakit akibat kerja (PAK) atau Occupational Diseases adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Penyakit akibat kerja dapat ditemukan atau didiagnosis sewaktu dilaksanakan pemeriksaan kesehatan kerja. Diagnosis penyakit akibat kerja ditegakkan melalui serangkaian pemeriksaan klinis dan pemeriksaan kondisi pekerja serta lingkungannya untuk membuktikan adanya hubungan sebablakibat antara penyakit dan pekerjaannya. Setelah ditegakkan diagnosis penyakit akibat kerja oleh dokter pemeriksa, dokter wajib membuat laporan medis yang bersifat rahasia.

Agar penyakit akibat kerja tidak terulang kembali diderita oleh tenaga kerja yang berada di bawah Pimpinannya, maka pengurus wajib dengan segera melakukan tindakan-tindakan preventif. Dalam hal ini pengurus wajib menyediakan secara cuma-cuma semua alat perlindungan diri yang diwajibkan. Penggunaannya oleh tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya.

Adapun beberapa contoh penyakit akibat kerja adalah sebagai berikut.
  1. Penyakit alergi atau hipersensitif, penyakit ini berupa rinitis, rinosinusitis, asma, pneumonitis, aspergilosis akut bronchopulmoner, hipersensitivitas lateks, penyakit jamur, dermatitis kontak, anafilaksis. Penyakit ini biasanya terjadi pada saluran pernapasan dan kulit. Penyebabnya adalah bahan kimia, mikroorganisme, atau lisis dapat merangsang interaksi nonspesiflk atau spesifik.
  2. Dermatitis kontak, ada dua jenis Penyakit yang ditimbulkan, yaitu iritan dan alergi. Penyakit ini terjadi pada daerah kulit.
  3. Penyakit paru, penyakit ini berupa bronchitis kronis, emfisema, karsinoma bronkus, fibrosis, TBC, mesetelioma, pneumonia, sarkoidosis. Penyakit ini disebabkan oleh bahan kimia, fisis, dan mikroorganisme.
  4. Penyakit hati dan gastro-intestinal. Penyakit ini berupa kanker lambung dan kanker oesofagus (karena berada di tambang batu bara dan vulkanisir karet), dan sirosis hati (karena alkohol, karbon tetraklorida, trichloroethylene, dan kloroform).
  5. Penyakit saluran urogenital, penyakif ini berupa gagal ginjal (karena uap logam kadmium dan merkuri, pelarut organik, pestisida, carbon tetrachiorid), kanker vesica urinaria (karena karet, manufaktur/bahan pewarna organik, benzidin, 2-naphthyiamin).
  6. Penyakit hematologi, penyakit ini berupa anemia (karena Pb) dan leukemia (karena benzena).
  7. Penyakit kardiovaskular, penyakit ini berupa penyakitjantung koroner(penyebabnya karena bahan kimia karbon disulfida, viscon rayon, gliceril trinitrat, ethylene giicol dinitrat) dan febrilasi ventricel (karena bahan kimia trichlorethylene).
  8. Gangguan alat reproduksi, penyakit ini berupa infertilitas (karena bahan kimia ethylene bromida, benzena, anasthetic gas, timbal, pelarut organik, karbon disulfida, vinyl klorida, chlorophene), kerusakan janin (karena bahan kimia aneteses gas, merkuri, pelarut organik), dan keguguran (karena kerja fisik). 
  9. Penyakit muskuloskeletal, penyakit ini berupa sindroma raynaud (karena getaran 20-400 Hz), carpal turnel syndroma (karena tekanan yang berulang pada lengan), dan HNP/sakit punggung (karena pekerjaan fisik berat, tidak ergonomis)
  10. Gangguan telinga, penyakit ini berupa penurunan pendengaran (karena bising di atas NAB).
  11. Gangguan mata,.penyakit ini berupa rasa sakit (kareria penataan pencahayaan), conjungtivitis (karena sinar UV), katarak (karena infra merah), gatal (karena bahan organik hewan, debu padi), dan iritasi nonalergi (karena bahan kimia chlor, formaldehid).
  12. Gangguan susunan saraf, penyakit ini berupa pusing, tidak konsentrasi, sering lupa, depresi, neuropati perifer, ataksia serebeler, dan penyakit neuron inotoris (karena bahan kimia cat, carpettile lining, petrolium, oli).
  13. Stress, penyakit ini berupa neuropsikiatrik, ansietas, dan depresi (karena hubungan kerja kurang baik, monoton, upah kurang, dan suasana kerja tidak nyaman).
  14. Infeksi, penyakit ini berupa pneumonia (karena legionella pada AC), leptospirosis (karena leptospira pada petani), brucellosis, dan antrakosis (karena brucella, antrak pada peternak hewan).
  15. Keracunan, penyakit ini berupa keracunan akut (karena CO, hidrogen sulfida, hidrogen sianida) dan kronis (karena bahan kimia timah hitam, merkuri, pestisida).