Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prinsip-Prinsip Dasar dalam Pemilihan Sistem Pertanian

Penerapan di lapisan sistem- sistem pemberian, penyaluran dan pengahran air pengairan ke dan dari lahan-lahan pertanaman sebagai disebutkan di muka tidaklah semudah seperti yang telah diteorikan, karena penerapannya di lapangan terutama sangat tergantung pada perencanaan rancangan jaringan pengairan yang dibuat untuk keperluan tersebut.
Prinsip-Prinsip Dasar dalam Pemilihan Sistem Pertanian
Dalam perancangannya selalu dijumpai kendala-kendala yang kompleks yang berkaitan dengan berbagai kondisi alami dan tata cara penggunaan air pengairan yang dibuat manusia sendiri, hambatan/kendala tersebut antara lain sebagai berikut:
  1. Keadaan topografi termasuk karakteristik lahan dan tanah s etempat.
  2. Keperluan penyediaan air yang dibutuhkan oleh tanamannya.
  3. Cara-cara usaha tani, yang dalam hat ini termasuk kedalamanakar tanaman, kebiasaan tumbuh tanaman.
  4. Kualitas air pengairan dan kuantitas tersedianya air tersebut pada sumber- sumbernya.
  5. Cara pemberian air pengairan ke petak-petak lahan pertanam- an.
  6. Keadaan iklim setempat, terutama unsur-unsurnya.
  7. Tata cara penggunaan air pengairan di antara para pemakai air pengairan tersebut.

Keadaan topografi dan karakteristik lahan serta tanah

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan ialah tentang arah, derajat dan keseragaman dari lereng atau kemiringan tanah atau yang biasa lebih dikenal sebagai slope association of land (asosiasi lereng).

Kemiringan tanah atau tanah berlereng ini ada bermacam-m a- cam, ada yang tidak beraturan, ada yang memanjang dan ada pula yang seragam beraturan, yang mengenai hal ini pemberian air pengairan agar efektif dan efisien harus disesuaikan dengan kondisi kemiringan tanah tersebut, jelasnya sebagai berikut :
  1. Pemberian dan pengaliran air pada tanah berlereng yang tidak, beraturan di mana terdapat selokan-selokan pengairan, seharus. nya dibuatkan terlebih dahulualur-alur dengan mengikuti gad kontur (contour) dan pengairan disalurkan melalu: alur-alur tersebut ke lahan-lahan pertanaman. Selain dengan cara itu, pada tanah berlereng yang tidak beraturan dapat pulp diterapkan sprinkle irrigation system (pemberian air pengairan secara pancaran).
  2. Pemberian air pengairan pada tanah berlereng yang memanjang serta seragam beraturan, ternyata akan lebih efektif dan mudah pelaksanaannya kalau memanfaatkan alur-alur di atas dan membuatkan galengan- galengan (pematang).
Pemberian air pengairan pada lahan yang datar secara merata adalah lebih sesuai kalau pemberiannya dilakukan secara pengenangan (flooding) seperti pada petak sawah yang dibata dengan galengan-galengan (lahan sawah basah).

Derajat peresapan air ke dalam tanah

Dalam perancangan sistem pengairan penting memperhatikan hatikan derajat meresapnya air pengairan ke dalam tanah dan keseragaman peresapannya ke dalam lapisan-lapisan bawah tanah (permeabilitas tanah).
  • Tanah-tanah pertanaman yang menurut pengamatan menyerap air pengairan sangat lambat/perlahan- lahan sebaiknya diberi air pengairan secara penggenangan (floding) selama jangka waktu tertentu, namun demikian hendaknya jangan sampai berlebihan sebab dapat mengakibatkan hanyutnya bagian permukaan tanah tersebut.
  • Lapisan-lapisan tanah yang menunjukkan daya permeabilitasnya rendah, besar kemungkinan akan menyebabkan genangan air yang bersifat merugikan zona perakaran tanaman yang mengakibatkan pula terganggunya pertumbuhan, karena itulah maka pengaliran (drainase) air genangan tersebutharus dirancang pula dengan sebaik-baiknya.
  • Terutama pada tanah-tanah berkandungan bahan lempung lumpur rancangan pembentukan petak-petak pertanaman yang memberi keleluasaan. untuk pengolahannya harus diperhatikan benar-benar, sebab tanah-tanah demikian biasanya cenderung menyerap, air pengairan secara lambat dari lapisan permukaannya.
Derajat aliran peresapan air pengairan ke lapisan-lapisan bawah tanah (sub soil) terutama akan sangat tergantung pada ukuran dan penyebaran pori- pori tanahnya.

Dalam praktek lapangan untuk mengetahui daya efektif penyerapan air pengairan pada tanah dapat diukur dengan derajat ketebalan pembasahan.

Derajat ketebakan kebasahan merupakan pernyataan yang menyatakan berapa besar pembasahan tanah, yang seharusnya segera dilakukan setelah kurun waktu pemberian air pengairan.

Ketebalan water table

Dalam merancang pemberian pengairan kita harus memperhatikan ketebalan rumah tangga air lahan- lahan pertanaman.

Disamping itu juga harus memperhatikan kuantitas garam atau unsur-unsur mineral yang larut dalam air.

Kuantitas garam atau unsur-unsur mineral tersebut seringkali merupakan faktor yang memerlukan pemberian air pengairan secara lebih banyak dari pada yang semestinya agar dapat diperoleh pemberian air pengairan yang efisien.

Pemberian pengairan secara ringan hendaknya diperhatikan, karena pemberian secara demikian bermanfaat melindungi naiknya water table tanah mencapai lapisan zona perakaran tanaman.

Kemantapan top soil

Dalam perancangan pemberian air pengairan pada lahan-laha pertanaman hendaknya diperhatikan juga mengenai stabilitas tata kemantapan dari lapisan top soil (lapisan permukaan tanah, yan tebalnya hanya sekitar 30-35 cm).

Lapisan permukaan tanah yang, terdiri dari tanah-tanah dengan struktur yang mudah pecah dalam campuran larutan air pengairan/air curahan hujan, menghendaki pengolahan secara khusus.

Setiap fase pertumbuhan tanaman juga menghendaki penanganan khusus, misalnya tanaman-tanaman muda yang mulai tumbuh akan berbeda penanganannya dengan tanaman yang sudah dewasa.

Jenis tanah yang berbeda juga menginginkan penanganan pengairan yang berbeda.
Misalnya untuk tanah yang mudah lepas pemberian air pengairan secara bedengan atau larikan, dapat menghindari pengikisan atau penghanyutan.

Perbedaan sistem pertanaman

Perbedaan sistem pemberian air pengairan (irigasi) hendaknya diperhatikan dalam perancangan sistem-sistem pengairan.

Sistem pertanaman yang rapat harus dibedakan bagi pertanaman dengan sistem penanaman yang berjarak tanam renggang, selain itu tebal lapisan perakaranpun memerlukan pertimbangan tersendiri.

Meresapnya air permukaan pengairan ke dalam tanah ditentukan oleh kesesuaian dan kebiasaan sistem perakaran tanaman.

Di Amerika Serikat tentang hal ini pernah dilakukan penelitian yang memakan waktu lama (5 tahun), dan hasilnya menyimpulkan bahwa :
  1. Sekitar 80-90% keseluruhan kebutuhan air pengairan oleh tanaman diambil dari lapisan- lapisan tanah sampai keda- lamannya 3 feet (kaki)
  2. Tanaman dengan sistem perakaran yang dalam masih dapat mengambil air yang tersedia sampai kedalaman 5 feet (kaki).
Dengan memanfaatkan kesimpulan di atas dapat diambil langkah-- langkah bahwa pemberian air pengairan hendaknya dapat menjangkau lapisan tanah setebal 3 kaki, dengan demikian sekaligus menyediakan air pengairan bagi tanaman-tanaman berakar dangkal.
Tabel Kebutuhan air beberapa jenis tanaman pada setiap fase fenologi
Tabel Kebutuhan air beberapa jenis tanaman pada setiap fase fenologi
Setiap jenis tanaman memiliki kebutuah akan air yang berbeda. Dibawah ini diberikan contoh kebutuhan air masing masing jenis tanaman.

Kebiasaan tumbuh tanaman

Tumbuh tanaman tidak sama, ada yang tegak dan ada pula terkulai menjangkau permukaan tanah.
  1. Tanaman-tanaman yang tumbuh tegak, kalaupun tanah permukaan atau sekitarnya mengalami pembasahan yang agak berlebihan tidak begitu berakibat pada kerusakan tanamannya.
  2. Tanaman-tanaman yang tumbuhnya terkulai menjangkau permukaan tanah, jika permukaan tanah jenuh air akan menyebabkan kerusakan.
Dengan demikian kebiasaan tumbuh tanaman perlu pula diperhatikan. Derasnya aliran air pengairan sering menyebabkan pembahasan permukaan secara berlebihan, dan merusak tanaman.

Oleh karena itu air pengairan yang deras hendaknya diimbangi dengan pembuatan pematang-pematang pada lahan pertanaman, sebagai penahan derasnya aliran air.

Kualitas air pengairan

Kualitas air pengairan meliputi jumlah kandungan ion yang berbahaya, ataupun hara yang berguna bagi tanaman.

Air pengairan harus mengandung zat-zat hara bagi pertumbuhan harus dapat menambah tingkat kesuburan, tanah, air pengairan harus terbebas dari bahan- bahan buangan limbah yang dapat merugikan atau meracuni tanaman.

Karena demikian pentingnya kualitas air ini, maka dalam perancangan pemberian air pengairan pada
lahan-lahan pertanaman, pekerjaan yang harus didahulukan yaitu meneliti secara, laboratoris sifat kimiawi dari kualitas air pengairan (irigasi), inklusif kandungan mikro- flora dan mikro-fauna yang terkandung dalam air.

Air irigasi yang mengandung zat beracun ini akan menyebabkan keracunan tidak saja bagi tanaman tapi juga bagi manusia yang mengkonsumsinya.

Kondisi iklim dan cuaca setempat

Dalam perancangan pemberian air pengairan pada lahan-lahan pertanaman, kondisi iklim dan cuaca setempat tidak boleh diabaikan, melainkan harus benar- benar pula diperhitungkan.

Pada daerah-daerah pertanian yang beriklim basah, sistem pemberian pengairan akan menjadi lebih efektif kalau disertai pula dengan tindakan-tindakan penyediaan sistem pengaliran/drainase yang memadai.

Pada daerah-daerah pertanian yang beriklim kurang basah dimana berlangsungnya, musim kering yang lebih panjang, perlu dirancang dan diterapkan sistem pemberian air pengairan yang teratur dengan tata cara pendistribusiannya, yang terjamin, seperti ialah sistem Subak di Bali yang memberikan manfaat yang demikian besar bagi para petani pemakainya.