Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pupuk Buatan, Sifat Umum, dan Jenis-Jenis Pupuk

Pupuk jenis ini mengandung unsur hara tertentu dan umumnya mempunyai kandungan hara yang tinggi.

Sifat umum pupuk buatan

Nilai suatu pupuk buatan ditentukan oleh sifat-sifatnya, yang harus diketahui nilai suaatu pupuk adalah:
  • Kadar unsur pupuk
  • Kelarutan pupuk
  • Kemasaman pupuk
  • Higroskopisitas
  • Bekerjanya pupuk
  • Indeks garam

Kadar unsur pupuk

Banyaknya unsur hara yang dikandung oleh sutatu pupuk merupakan faktor penentu utama untuk menilai pupuk tersebut, karena jumlah unsur hara menentukan kemampuannya untuk menaikkan kandungan hara tanah.

Kadar unsur hara dinyatakan dalam persen N, persen P2O5, dan persen K2O. Misalnya pupuk urea 45% artinya dalam setiap 100 kg pupuk urea mengandung 45 kg N.

Kelarutan pupuk

Kelarutan pupuk menyatakan mudah tidaknya suatu pupuk larut dalam air, dan diserap akar tanaman.

Sifat kelarutan pupuk perlu diketahui dalam hal:
  • Penentuan atau pemilihan metode cara pemupukan
  • Waktu pemupukan
  • Penggunaan pupuk dan untuk jenis tanaman apa.
Misalnya pupuk yang bersifat mudah larut dapat diaplikasikan pada saat tanam atau setelah tanaman tumbuh, dan pupuk ini sesuai untuk jenis tanaman semusim.

Pupuk yang tidak mudah larut dapat disebar dilapang pada waktu sebelum tanam dan sesuai untuk tanaman tahunan.

Kemasaman pupuk

Reaksi fisiologis pupuk yang diberikan ke tanah dapat bersifat masam, alkalis atau netral.

Sifat kemasaman pupuk dinyatakan dengan nilai ekivalen kemasaman, yang artinya berapa jumlah Kg kapur (CaCO3) yang diperlukan untuk meniadakan kemasaman yang disebabkan oleh penggunaan 100 Kg suatu jenis pupuk.

Misalnya pupuk ZA dengan ekivalen 110, artinya untuk menghilangkan kemasaman yang disebabkan oleh penggunaan 100 Kg ZA perlu ditambahkan sebanyak 110 Kg kapur.

Dengan mengetahui sifat kemasaman pupuk kita akan menggunakan pupuk yang bersifat alkalis untuk tanah-tanah masam, atau sebaliknya.

Higroskopisitas pupuk

Higroskopisitas adala sifat mudah tidaknya pupuk bereaksi dengan uap air.

Pupuk yang higroskopis kurang baik karena mudah menjadi basah atau mencair bila tidak tertutup.
Walaupun pada kondisi kelembaban udara rendah pupuk ini dapat kembali kering, tetapi menjadi bongkahan yang keras.

Umumnya untuk mengurangi sifat higroskopisnya pupuk ini dibuat dalam bentuk butiran, untuk mengurangi bidang sentuh dengan uap air.

Cara bekerjanya pupuk

Bekerjanya pupuk adalah waktu yang diperlukan sejak saat pemberian pupuk hingga pupuk tersebut dapat diserap tanaman.

Indeks garam

Pemupukan dapat meningkatan konsentrasi garam di dalam larutan tanah.

Indeks garam merupakan gambaran perbandingan kenaikan tekanan osmotik karena penambahan 100 g pupuk dengan kenaikan tekanan osmotik karena penambahan 100 g NaNO3.

Sifat ini penting diketahui untuk menentukan penempatan pupuk yang tepat.

Misalnya dosis urea per Ha =
Sedangkan ZA
Indeks garam 107 Urea
Indeks garam 236 ZA
Berdasarkan indeks garam diatas maka pupuk yang dipilih adalah urea (80.7) karena indeks garamnya lebih rendah dibandingkan dengan ZA (162.7)

Pupuk nitrogen

Macam pupuk nitrogen

Pupuk N organik dan anorganik dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu
  • bentuk organik
  • bentuk anorganik

Bentuk organik

Pupuk organik, seperti sampah, sisa ikan, ampas jarak, dan sebainya, harus mengalami aminisasi, amonifikasi, dan nitrifikasi sebelum nitrogennya menjadi tersedia bagi tanaman.

Akibatnya mereka tidak seefektif NaN3. Na4NO3 atau (NH4)2SO4, dan tidak menghasilkan respons tanaman yang cepat, apalagi kalau keadaan tanah tidak menunjang proses-proses dekomposisi tersebut.

Bentuk anorganik

Bahan–bahan yang disebut dalam tabel mempunyai satu persamaam, yaitu mereka dapat dibuat dari N2 udara.

Penggunaan pupuk N yang lebih banyak disebabkan oleh:
  • Jumlah gas nitrogen yang terdapat dalam atmosfer cukup tersedia.
  • Teknologi pembuatan pupuk N telah begitu maju, sehingga biaya pembuatan jauh lebih murah dari pada pupuk P dan K. Disamping itu, cara pembuatan yang dipakai sekarang memungkinkan dihasilkannya berbagai macam bahan dalam jumlah banyak, sehingga penggunaannya lebih praktis.
Sebagai akibat dari kenyataan diatas pembawa N sintetik atau buatan makin lama makin memegang peranan penting.

Hampir seluruh keperluan pupuk N Indonesia berasal dari pembawa nitrogen anorganik sintetik ini.

Bentuk amonia

Dikenal berbagai macam pembawa N. anorganik yang dapat mensuplai N dalam pupuk majemuk.

Mungkin proses sintetik yang paling paling penting ialah pembuatan gas amonia dari unsur-unsur hidrogen dan nitrogen.

Reaksianya adalah sebagai berikut:
N2 + 3H2 -> 2NH3
Reaksi ini sangat penting karena menghasilkan senyawa yang pada saat ini dianggap paling murah.

Satu hali lain yang penting, ialah reaksi ini merupakan langkah pertama dalam pembuatan bahan- bahan pupuk N yang lainnya.

Tabel dibawah menyajikan susunan dan sumber dari pupuk–pupuk yang terpenting.

Kisaran kadar N dari berbagai pupuk N sangat lebar, bervariasi antara 3% yang terdapat dalam super fosfat yang diamoniatkan hingga 82% yang ada dalam pupuk amonia cairan.

Juga beberapa bentuk N, seperti senyawa amonium dan nitrat dan juga urea dan sianada disajikan dalam tabel.

Dua yang terakhir bila mengalami hidrolisis dalam tanah menghasilkian ion NH + yang dapat diabsorpsikan tanaman atau dioksidasikan menjadi nitrat.

Walaupun semua bahan yang dikemukakan dalam tabel dipakai sebagai pembawa N, senyawa- senyawa yang mengandung ammonium (NH4 +) dan nitrat (NO3 -) ternyata paling banyak digunakan sebagai pupuk.

Gas amonia yang diperoleh secara demikian dapat digunakan untuk tiga hal.
  • Pertama, gas tersebut dibawah tekanan tinggi dapat dicairkan menjadi amonia cairan. Senyawa ini digunakan dalam pembuatan superfosfat yang diamoniatkan dan pupuk majemuk lainnya. Senyawa ini dapat langsung dipakai sebagai pupuk N.
  • Kedua, gas amonia dapat dilarutkan dalam air menghasilkan NH4OH. Bahan ini dapat dipakai secara tersendiri sebagai pupuk, atau lebih sering dipakai sebagai pelarut pembawa nitrogen lain separti NH4 NO3 dan urea yang dinamakan larutan nitrogen. Pabrik pupuk Sriwijaya menghasilkan amonia cairan sebagai hasil sampingan dan umumnya dipakai sebagai pendingin pabrik-pabrik es.
  • Ketiga, gas amonia dipakai untuk pembuatan pupuk N lainnya.
Anhidrous ammonia

Nitrogen atmosfir merupakan sumber nitrogen utama di muka bumi. Kemudian nitrogen berikatan dengan hidrogen membentuk amonia.

Hara yang umum terdapat dalam pupuk adalah N, P2O5, dan K2O dalam bentuk tunggal ataupun majemuk. Pupuk yang hanya mengandung satu unsur disebut pupuk tunggal, sedangkan yang mengandung lebih dari satu unsur disebut pupuk majemuk. Sebagai contoh dapat disebut kalium nitrat dan amonium fosfat.

Awal dari terbentuknya senyawa nitrogen diawali dengan reaksi antara hidrogen (H+) dan nitrogen
(N) pada temperatur dan tekanan tinggi yang menghasilkan amonia (NH3).

Rincian reaksi tersebut seperti yang tertera dibawah ini.
Katalisator reaksi pembentukan amonia hanya dapat berlangsung pada suhu dan tekanan tinggi.
Temperatur yang dibutuhkan mencapai 400-500 0C, dengan tekanan 2.200 pound per m2.

Amonia inilah yang kemudian dikonversi kebeberapa bentuk lain seperti tertera pada Gambar.
Gambar Konversi ammonia kebeberapa bentuk pupuk nitrogen
Gambar Konversi ammonia kebeberapa bentuk pupuk nitrogen
Amonia cair

Amonia anhidrous larutan pupuk nitrogen yang dilarutkan dalam air.

Kandungan nitrogen pada pupuk amonia cair yang diperdagangkan sekitar 20% N, dalam bentuk amonia. Untuk menghindari kehilangan nitrogen dari pupuk amonia cair ini, umumnya pengaplikasiannya ke tanaman melalui penyuntikan ke air permukaan tanah.
Tabel Pembawa Nitrogen organik
Tabel Pembawa Nitrogen organik
Tabel Pembawa nitrogen anorganik
Tabel Pembawa nitrogen anorganik
Amonium nitrat (34-0-0)

Amonium nitrat merupakan pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan setelah perang dunia ke II.

Pupuk ini dihasilkan dari reaksi antara asam nitrit dengan senyawa amonia ahhidrous.

Pupuk amonium nitrat adalah pupuk yang dapat menyumbangkan dua jenis hara N dalam bentuk amonium (NH4+) dan nitrat (NO3 -).

Setelah asam nitrit dihasilkan, selanjutnya direaksikan dengan amonia anhidrous membentuk amonium nitrat.

Produk komersial dari pupuk amonium nitrat dapat dalam bentuk padat, granular, larutan dan kapsul. Bentuk pupuk ini padat dan kristalin , berwarna putih, tidak higroskopis dan bekerjanya cepat.

Kandungan N dari pupuk amonium nitrat yang diperdagangkan berkisar antara 33-34%.
Gambar Reaksi pembentukan asam nitrit
Gambar Reaksi pembentukan asam nitrit
Amonium sulfat

Umumnya pupuk amonium sulfat yang beredar dipasaran mengandung 21% nitrogen dan 24% belerang.

Pembentukan pupuk ini berasal dari reaksi antara amonia dengan asam sulfat, dengan reaksi sebagai berikut:
Urea CO(NH2)2

Pupuk urea adalah salah satu jenis pupuk N yang paling tinggi kandungan nitrogennya. Urea selain digunakan sebagai pupuk juga sering digunakan sebagai protein substitusi dari hewan ruminansia.

Pembentukan pupuk ini diawali dengan reaksi antara ammonia dengan karbondioksida pada temperatur 170-210 derajat C dengan tekanan berkisar antara 170-400 atmosfir.

Pada suhu tinggi amonium karbonat memperlihatkan sifat tekanan disosiasi yang tinggi.

Pembentukannya menghasilkan banyak panas, selama tekanan parsial bahan-bahan yang sedang di raeaksikan melebihi tekanan diosiasi amonium karbonat.

Reaksi berikut dari karbonat ke urea hanya terjadi dalam suasana cairan atau padat dan koversi keseimbangan menurun karena terbentuknya air.

Reaksi pembentukkannya terdapat adalah sebagai berikut berikutnya:
Konsentrasi kandungan urea dari reaksi diatas mencapai lebih kurang 80%.

Penggunaan pupuk urea dilapangan dapat dalam bentuk konsentrat atau dalam bentuk granular, sedangkan kandungan nitrogen dari pupk urea ini sekitar 45%.

Pupuk urea memiliki sifat higrokopis yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk lainnya. Oleh karenanya penggunaannya di lapangan biasanya diberikan dalam 3 tahapan selama masa pertanaman.

Sifatnya ini juga yang menyebabkan penggabungan dan penyimpanan pupuk ini dengan pupuk lainnya memerlukan perhatian khusus.

Nitrat fosfat

Dengan menggunakan HNO3 sebagai pengagam batu fosfat diperoleh nitrat fosfat. Senyawa ini banyak dipakai untuk pembuatan pupuk majemuk.

Amonium sulfat nitrat

Pupuk ini merupakan habungan antara amonium sulfat dan amonium nitrat. Pupuk ini diperdagangkan dalam bentuk kristal berwarna kuning kemerahan.
Gambar Tahapan pembentukan amonium dari asam nitrit
Gambar Tahapan pembentukan amonium dari asam nitrit
Amonium sulfat mengandung 26% dan 37% SO4, 19.5% tersedia dalam bentuk amonium dan 6.5% sebagai nitrat.

Nilainya sebagai pupuk tidak berbeda jauh dengan ZA,

kelebihannya dibandingkan ZA, kada N nya lebih tinggi dan ¼ dari jumlah N tersedia dalam bentuk nitrat, yang dapat diserap tanaman tanpa mengalami perubahan kimia terlebih dahulu.

Pupuk Posfat

Hampir semua pupuk posfat komersial berasal dari batuan posfat.

Bahan baku pembuatan pupuk posfat (posfat alam) banyak disuplai dari Afrika Utara (Tunisia, Aljajair, dan Maroko) dan Amerika Serikat.

Super fosfat

Pada saat ini super fosfat merupakan pupuk fosfat utama.

Pupuk yang berkadar 16-21% P2O5 diperoleh dengan menambahkan sejumlah asam sulfat pada batu fosfat.

Fosfat yang dulu sering dipakai adalah bentuk ini, yang mengandung 31% Pa05, 50% CaSO4 dan 19% kotoran.

Sekarang beredar pupuk tripel super posfat 40-47% P2O5 tersedia.

Reaksi pembuataannya adalah sebagai berikut :
Ca3 (PO4)2 + 4H3PO -> 3 Ca (H2PO4)2 + kotoran
Tripel super fosfat yang diperdagangkan di Indonesia dalam bentuk pelet.

Pupuk yang berkadar P tinggi ini, bila tidak diberikan dalam bentuk pelet akan segera bereaksi dengan tanah, dan biasanya P berakhir dalam bentuk terikat.

Dengan adanya bentuk pelet ini, maka kontak dengan tanah diperkecil sehingga jumlah yang diikat tanah dapat dikurangi.

Superfosfat bereaksi sangat masam dan umumnya dianggap akan meningkatkan kemasaman tanah bila diberikan pada tanah. Nyatanya, ia tidak memberikan efek kemasaman tanah.

Akan tetapi bila superposfat diberikan pada tanah ber-pH rendah maka pupuk ini bertendensi menaikkan kemasaman tanah, sedangkan pada tanah ber-ph antara 7.5 dan 8.5 memberikan efek yang berlainan.

Fosfat yang diamoniatkan

Fosfat yang diamoniatkan mengandung 3 hingga 4% N dan 16- 18% P2O5. Pupuk ini biasa dibuat dari superfosfat yang diberi larutan amonia atau larutan nitrogen Amofos yang mengandung 11% N dan 48% P2O5 juga merupakan pupuk dagangan.

Pupuk ini sangat cocok untuk tanah berkadar K tinggi dan banyak membutuhkan N dan P.

Tepung tulang

Tepung tulang merupakan asam fosfat yang mahal. Lambat tersadia dalam tanah. Dalam jumlah besar pun tepung tulang tidak akan mengganggu tanaman.

Batu fosfat

Bila ingin menggunakan batu fosfat sebagai pupuk terlebih dahulu harus digiling halus.

Penggilingan ini dapat meningkatkan ketersediaan P, apalagi bila pada tanah tersebut terdapat bahan organik yang sedang mengalami dekomposisi.

Batu fosfat merupakan pupuk fosfat yang paling sukar larut dibandingkan pupuk fosfat lainnya.

Jika kita urutkan ketersediaan posfat mulai dari cepat ke lambat tersedia adalah sebagai berikut: amonium fosfat, super fosfat, tepung tulang dan batu fosfat.

Walaupun rumus konvensional batu fosfat adalah Ca3(PO4)2, sabenarnya rumusnya jauh lebih kompleks dari pada itu.

Nyatanya ia mendekati rumus flourapatit, 3Ca3(PO4)2.CaF2. Oleh karenanya ia sangat sukar larut.
Batu fosfat yang pernah ditambang sebagai pupuk di Indonesia ialah batu fosfat dari Cirebon. Pupuk tersebut dikenal sebagi fosfat Cirebon, merupakan kalsiumtrifosfat yang mengandung 28% P2O5 larut dalam HCl keras atau 14% P2O5 larut dalm 2% asam nitrat.

Sebelum dipakai, batu tersebut harus terlebih dahulu digiling halus (80% melampaui saringan 0.17 mm).

Sebagian besar dari pupuk ini dipakai oleh perkebunan teh, kelapa sawit, dan karet sebagai pangganti super fosfat. Untuk tanaman tahunan pupuk fosfat yang lambat tersedia tidak menjadi halangan, berlainan dengan tebu, tanaman ini memerlukan pupuk fosfat cepat tersedia.

Pupuk berkadar fosfat tinggi

Perlu pula kiata menyebut dua macam fosfat berkadar tinggi yang belum banyak dipakai, yaitu: kalsium metafosfat, Ca(PO4)2 yang berkadar 62-63% P2O5 dan asam super fosfat yang mengandung 76% P2O5.

Kalsium meta fosfat, atau sering disebut metafos dibuat dari batu posfat atau batu kapur yang direaksikan daengan P2O5.

Asam superfosfat

Pupuk ini merupakan senyawa yang berkadar P2O5 paling tinggi. Larutan ini dapat dipakai untuk membuat pupuk larutan lain atau membuat superfosfat berkada P tinggi (54% P2O5 ).

Efektifitas pupuk posfat yang diberikan ke dalam tanah dipengaruhi oleh dua faktor yakni ukuran butiran pupuk dan cara pemberian pupuk.

Makin halus ukuran butiran, efektivitasnya makin tinggi, artinya pupuk yang diberikan akan cepat larut dan membentuk H2PO4 di dalam larutan tanah sehingga dapat mempercepat tanaman menyerap unsur tersebut.

Cara pemberian yang tepat juga akan meningkatkan efektifitas pupuk seperti pemberian pupuk P cara lubang dan jalur merupakan cara terbaik

Pupuk kalium

Pupuk kalium dibuat dari deposit garam kalium, dan pada umumnya berasosiasi dengan magnesium, sulfat, dan klor.

Kainit dan garam pupuk kandang merupakan sumber kalium yang biasa dijumpai. Kalium klorida dan sulfat yang berasal dari Jerman dan Prancis merupakan senyawa- senyawa kalim yang telah dimurnikan.

Kalium sulfat

Pupuk ini dikenal juga dengan nama zwavelzure kali (ZK) dengan rumus kimia (K2SO4).

Kalium magnesium sulfat

Pupuk ini dikenal dengan nama patent kali, merupakan garam rangkap pupuk kieserit (MgSO4) dan pupuk ZK (K2SO4) dengan rumus kimia K2SO4.MgSO4.

Semua garam kalium yang dipakai sebagai pupuk larut dalam air dan segera tersedia.

Tidak seperti pupuk N, pupuk K walupun diberikan dalam jumlah banyak tidak mempengaruhi pH tanah.

Pemberian KCl yang banyak pada kentang dan tembakau dapat menurunkan kwalitas hasil tanaman.

Kalium khlorida dan sulfat banyak dipakai di Indonesia, terutama untuk tanaman tembakau, sisal, dan tanaman perkebunan.

Beberapa tanaman sayuran memerlukan kalium, sedangkan padi hampir tidak pernah dipupuk K. Seluruh keperluan kalium di Indonesia didatang dari luar negri.

Kalium-magnesium sulfat, walaupun berkadar K rendah, Mulai banyak digunakan di terutama didaerah yang kekurangan magnesium.

Dibandingkan dengan batu kapur dolomitik atau dolomit, kalium- magnesium merupakn sumber Mg yang disukai.

Sebagin besar dari kulit coklat, abu ampas tebu atau abu sabut kelapa cukup banyak mengadung K, akan tetapi bahan ini belum dimanfaatkan secara sempurna.

Sekam padi mengandung kurang lebih 2% kalium. Pada umumnya sekam ini dibakar dan abunya dibiarkan tanpa dipergunakan.

Kadar K dalam abu sekam kurang lebih sama dengan 30% K2O.

Sisa-sisa pertanian dalam bentuk kulit coklat, sabut dan batok kelapa, ampas tebu dan sekam padi merupakan sumber kalium yang cukup berarti.

Pupuk kalsium, magnesium belerang dan unsur mikro

Unsur hara kalsium termasuk hara makro sekunder bersama dengan magnesium dan belerang.

Sumber kalsium dalam tanah berasal dari mineral tanah primer seperti kalsit (CaCO3), dolomit (Ca Mg(CO3)2 , dan garam-garam sederhana seperti gipsum (CaSO4) dan Ca-posfat.

Pemupukan kalsium umumnya diberikan dalam bentuk kapur atau garam-garam yang mengandung kalsium.

Penambahan kapur ke dalam tanah mempunyai dua fungsi yaitu menaikkan pH dan meningkatkan ketersediaan hara.

Kalsium dalam pupuk

Beberapa bentuk kalsium yang biasa dipakai untuk pertanian adalah kalsium karbonat (CaCO3), kalsium hidroksida (Ca(OH)2, kalsium oksida (CaO) dolomit (CaMg(CO3)2, dan kalsium silikat (CaSiO3)

Magnesium dalam pupuk

Sumber utama pupuk magnesium diperoleh dari batuan dolomit (CaMg(CO3)2, garam pahit (MgSO4.7H2O) dan kiserit (MgSO4.H2O).

Efisiensi pupuk dolomit sangat tergantung pada kehalusannya, semakin halus pupuk tersebut semakin efektif sebagai pupuk.

Pupuk belerang

Kehilangan S dari bidang serap tanah dapat disebabkan oleh erosi, pencucian dan terangkut tanaman dari tanah petani sama dengan 20- 30 kg per hektar.

Untuk daerah yang memiliki curah hujan tinggi maka besarnya kehilangan akibat pencucian ini akan lebih besar.

Akan tetapi belerang tanah juga dapat mengalami penambahan melalui hujan dan salju.

Jumlahnya tergantung dari tempat, dan bekisar 2-3 kg per hektar hingga lebih dari 100 kg bila dekat dengan pusat industri atau gunung berapi yang masih aktif.

Pada usaha pertanian umum masalah penambahan belerang dapat diselesaikan secara otomatis.

Dalam pengelolaan tanah belerang dikembalikan kedalam tanah dengan bentuk pupuk hijau, sisa tanaman dan pupuk kandang.

Pupuk buatan seperti super fosfat dan kalium sulfat mengandung sejumlah belerang. Pemberian 10 ton pupuk kandang yang diperkuat dengan 250 kg superfosfat mengandung lebih dari 50 kg belerang. Jumlah ini saja sudah melebihi belerang yang hilang.

Dari keterangan diatas, kelihatannya masalah belerang tidak serawan hara posfor.

Pupuk mikro

Penambahan unsur mikro pada pupuk harus dilakukan dan dikendalikan lebih teliti dari pada penambahn unsur makro.

Perbedaan antara jumlah unsur mikro yang diberikan pada waktu terjadi dan keracunan sangat kecil.

Akibatnya, unsur mikro hanya diberikan bila kita yakin bila unsur itu diperlukan dan jumlah yang dibutuhkan diketahui.

Bila tanaman kekurangan suatu unsur mikro harus diatasi, terutama saat masalahnya sangat medesak maka garam dari unsur mikro yang kurang ditambahkan kedalam tanah.

Tembaga, Fe dan Zn pada umumnya diberikan sebagai garam sulfat, sedangkan B sebagai boraks. Molibdenum ditambahkan sebagai N-molibdat. Besi dan Zn dapat diberikan sebagai khelat. Jumlah hara mikro yang ditambahkan harus terkendalikan karena kalau tidak, dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman.

Pupuk yang mengandung unsur mikro mempunyai arti yang cukup penting, karena tidak dapat kita sangkallagi kesalahan perharaan tanaman, disebabkan kekurangn unsur ini kian hari kian menjadi kenyataan.

Pupuk Majemuk

Pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara disebut pupuk majemuk (pupuk campuran). Pupuk campuran biasanya paling sedikit terdiri dari dua dan tiga dari unsur pupuk.

Yang pertama disebut pupuk majemuk tidak lengkap dan yang terakhir pupuk lengkap.

Banyaknya unsur pupuk dicampurkan dalam perbandingan yang dapat menunjang keperluan unsur hara.

Contohnya, larutan amonia, super fosfat, KCl dan sejumlah bahan organik dapat dipakai suatu pupuk majemuk yang lengkap.

Kondisi fisik

Disamping mensuplai N, P, dan K dalam jumlah sebanding, pupuk majemuk harus mempunyai beberapa sifat lain.

Yang terpenting dalam hubungan ini ialah kondisi fisik dari pupuk campuran tersebut. Pupuk tersebut harus tetap bersifat “drillable” sejak dibeli, kemudian disimpan hingga pada waktu diberikan ke dalam tanah.

Beberapa pupuk majemuk tidak dapat dipakai karena sifat menggumpal kemudian mengeras. Pupuk-pupuk yang sering tidak memuaskan jika dicampur ialah campuran amonium dan natrium nitrat, amonium sulfat dan kalium chlorida.

Sifat higrokopis beberapa bahan, seperti amonium nitrat, sering menyebabkan pupuk majemuk menggumpal.

Cara yang paling aman untuk menghindari penggumpalan adalah:
  • Pupuk disimpan dalam kantong tahan kelembapan,
  • Pupuk dicampurkan dengan bahan yang dapat menyerap kelembapan.
Dalam kasus kedua bahan-bahan seperti batang jagung atau kotoran ayam yang dikeringkan dapat dicampurkan untuk menyerap uap air udara. Kapur dolomitik sering digunakan menyangga kecendrungan terjadinya kemasaman, dan ia juga dapt merupakn suatu “conditioner”.

Salah satu cara lain agar pupuk tidak menggumpal ialah dengan membuat pelet segera setelah dicampur.

Pupuk yang dipeletkan bebas dari debu, disamping ia mudah dihandel. Granulasi mengurangi kemungkinan pupuk ditiup angin dan mengurangi kecepatan bereaksi dengan tanah.

Pengaruh pupuk majemuk terhadap ph tanah

Pupuk pembentuk asam

Hampir semua pupuk majemuk, kecuali bila memperoleh perlakuan tertentu, bertendensi memciptakan residu yang bereaksi masam pada tanah. Hal ini disebabkan oleh pembawa-pembawa N, terutama yang bersifat amonia. Efek utama yang diperlihatkan oleh ion-ion NH4 ialah bila ion ini dinitrifikasikan.

Bila senyawa amonium di oksidasikan maka bertendensi menambah kemasam, seperti diperlihatkan pada reaksi berikut:
NH4 + 2 O2 -> 2 H+ + NO - +H2O
Eefek ion NH4 lain yang tidak kalah pentingnya, adalah potensinya dalam menurunkan pH tanah. Contohnya, bila (NH4)2(SO4) ditambahkan kedalam tanah, sebagian dari ion NH4 + segera diadsorpsikan oleh kompleks koloid tanah menggantikan sejumlah ekivalen kation-kation lain.

Bila ion metal yang digantikan, maka ion tersebut peka pada pencucian.

Dan ini akhirnya dapt berakibat penurunan pH tanah. Sebaliknya, bila ion–ion H yang digantikan, asam sulfat akan muncul dalam larutan tanah.

Pembentukan asam sulfat yang sama akan terjadi bila mengabsorpsikan ion NH4 lebih banyak dari pada ion SO4.

Diamping senyawa-senyawa amonium, bahan-bahan seperti urea dan beberapa bahan organik, yang bila dihidrolisiskan menghasilkan ion NH4 + merupakan sumber berkompetensi terhadap kemasaman tanah. Pupuk P dan K yang biasa dipakai hampir tidak mempunyai pengaruh pada pH tanah, terkecuali bila pupuk tersebut mengandung N.
Tabel Pembawa fosfor
Tabel Pembawa fosfor
Tabel Pupuk Kalium
Tabel Pupuk Kalium
Jaminan dari pupuk tunggal, seperti amoniumsulfat mudah diinterpretasikan, karena nama dan susunan dari bahan tersebut dicantumkan pada label atau dicetak pada pembungkusnya.

Bila jumlah unsur yang terdapat dalam bahan yang dicantumkan, maka kemurnian dari pada pupuk tersebut dapat diketahui. Misalnya, bila bahan tersebut adalah NaNO3 maka kadar N nya 16%.

Akan tetapi jika tidak, maka kita akan melakukan analisa hara pupuk yang menyatakan berapa jumlah relatif dari N, P2O5,dan K2O dalam pupuk tersebut.

Jadi, jika pada kantong pupuk tertulis angka perbandingan 5-10-10 artinya pupuk ini mengandung 5% N-total, 10% P-tersedia, dan 10% K larut dalam air.

Umumnya pupuk komersial menggunakan perbandingan haranya 1-2-2, misalnya, 5-10-10, 6-
12-12, 10-20-20, dan 15-30-30.

Pupuk demikian bila diberikan dalam jumlah ekivalen yang sama akan mempunyai hara yang sama.

Misalnya jika kita memberikan pupuk jenis A (10-20-20)sebanyak 500 maka hal ini ekivalen dengan memberikan memberikan jumlah N, P2O5, dan K2O yang sama dengan 5-10-10