Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sumber Air Bagi Pertanian (Irigasi)

Pengertian Irigasi

Irigasi secara umum didefinisikan sebagai pemberian air kepada tanah dengan maksud untuk memasok kelembaban tanah esensial bagi pertumbuhan tanaman.

Tujuan umum irigasi adalah:
  1. Menjamin keberhasilan produksi tanaman dalam menghadapi kekeringan jangka pendek
  2. Mendinginkan tanah dan atmosfir sehingga akrab dengan pertumbuhan tanaman
  3. Mengurangi bahaya cekaman kekeringan
  4. Mencuci atau melarutkan garam dalam tanah
  5. Melunakkan lapisan olah dan gumpalan-gumpalan tanah
Secara implisist tujuan umum irigasi tersebut mencakup pula kegiatan drainase pertanian terutama berkaitan dengan tujuan mencuci dan melarutkan garam tanah.

Air permukaan tanah

Seluruh keperluan air bagi tanaman dan untuk kelembaban tanahnya dicukupi oleh ketersediaan air pengairan yang berasal dari air

permukaan dan air tanah. Sumber air permukaan yaitu sungai, danau, waduk dan curah air hujan, sedang sumber air tanah yaitu air tanah bebas dan air tanah tertekan.
Ketersediaan air pengairan bagi pertanian itu berbeda-beda tergantung pada:
  • Musim
  • Lokasi sumber air
  • Usaha-usaha konservasi air.
Tanaman yang mengalami kekurangan air akan mengalami cekaman kekeringan.

Beberapa tipe dari cekaman adalah sebagai berikut:
  1. Tipe meteorology
  2. Tipe Hidrologi
  3. Tipe pertanian
  4. Tipe Sosial ekonomi
Kekeringan meteorology, adalah cekaman kekeringan yang disebabkan keterbatasan curah hujan yang berkepanjangan.

Kekeringan dapat dinyatakan sebagai suatu keadaan dimana berkurangnya jumlah air disebabkan oleh menurunnya daya dukung tanah terhadap ketersediaan air.

Pada kondisi ini tanah yang berfungsi sebagai tempat cadangan penyimpan air tidak dapat melaksanakan fungsinya.

Kekeringan hidrologi, adalah kekeringan yang berasosiasi dengan efek periode singkat dari curah hujan.

Dalam hal ini air pada pool cadangan seperti pada reservoir dan sungai tidak mencukupi untuk semua kebutuhan dari makhluk yang membutuhkannya. Hal ini dapat juga disebabkan oleh tidak adanya kontrol terhadap peredaran air (siklus hidrologi).

Kekeringan sosial ekonomi, adalah keadaan perubahan sosial ekonomi masyarakat yang disebabkan oleh keterbatasan air. Jumlah dan kualitas air yang tidak mencukupi berakibat pada rendahnya hasil pertanian atau bahan makanan sehingga menyebabkan perubahan tatanan sosial masyarakat.

Walaupun curah hujan di Indonesia relatif cukup tinggi, tetapi ketersediaannya perlu diperhitungkan secara kualitas dan kuantitas.

Ketersediaan air pengairan yang cukup banyak dan bebas dari pencemaran dan bahan-bahan buangan yang tidak dapat meracuni tanaman merupakan pilihan untuk pengairan yang dapat dapat dimanfaatkan.

Oleh karenanya untuk mempertahankan ketersediaan air perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  1. Debit yang memadai
  2. Berkualitas menurut pandangan dari segi pertanian atau jelas nya cukup mengandung unsur- unsur hara bagi tanaman dan unsur-unsur mineral bagi kesuburan tanah.
Indonesia dan seluruh daerah tropika curah hujan merupakan sumber yang pokok bagi tersedianya air pengairan terutama air permukaan.

Air hujan yang tercurah pada suatu daerah sebagian akan terinfiltrasi melalui pori-pori tanah ke dalam tanah dan sebagian lagi karena daya resap pori-pori tanah tidak memungkinkan akan membentuk aliran air permukaan (run off) yang terus mengalir ke bawah dan masuk ke sungai-sungai.

Aliran air permukaan biasanya mengangkut unsur-unsur hara dari tanah di bagian atas ke tanah bagian bawah atau langsung terangkut ke dalam sungai yang selanjutnya ke muara dan laut atau menyampaikannya ke danau-danau atau waduk-waduk yang telah dibuat.

Air sungai, danau atau waduk yang demikian kalau diuji biasanya menunjukkan kualitas air yang banyak mengandung unsur hara yang penting bagi tanaman.

Air hujan yang terinflitrasikan ke dalam tanah sebagian akan mengalir kembali ke luar dari tanah dan masuk ke sungai-sungai tetapi sebagian akan bertahan sementara di dalam tanah dan selanjutnya sedikit demi sedikit air tanah akan ke luar pula melalui mata air ke permukaan tanah dalam jangka waktu yang relatif lama.

Air tanah ini menjamin terpenuhinya kebutuhan manusia akan air minum dan lain-lain.

Dalam kaitan dengan bergeraknya air pada lapisan permukaan tanah dan dalam lapisan bawah tanah, kita mengenal istilah-istilah:
  • interflow
  • ground water
  • groun water run off.
  1. interflow, yaitu aliran air yang meresap ke lapisan tanah permukaan dan kemudian mengalir kembali ke luar dari lapisan tanah permukaan tersebut ke permukaan tanahnya
  2. ground water, yaitu air tanah atau jelasnya air permukaan yang meresap ke dalam tanah dan berkumpul di bagian lapisan bawah tanah yang kemudian sedikit demi sedikit akan ke luar melalui mata air
  3. ground water run off, yaitu limpasan air tanah.
Hujan yang turun pada suatu atau beberapa daerah selanjutnya akan mengalir dan masuk ke dalam parit- parit, selokan-selokan, sungai- sungai kecil dan menyatu dalam sungai besar, untuk seterusnya mengalir ke muara/laut atau ke danau.

Jadi sungai tersebut berfungsi mengumpulkan dan mengalirkan curahan air hujan dari suatu daerah lairan sungai (DAS).

Air Tanah

Daerah penampungan (reservoir, reservation) air tanah terdapat di lapisan bagian bawah tanah, tepatnya di dalam lapisan padat atau batuan yang sarang yang biasanya terbentuk dari bahan-bahan pasir dan kerikil, tufa vulkanis, batu gamping dan beberapa bahan lainnya.

Lapisan penampungan air tanah ini selanjutnya dikenal sebagai lapisan pengandungan air atau aquifer, air yang terkumpul disini mudah bergerak dari tempatnya yang lebih tinggi ke tempat-tempat yang lebih rendah.

Berkaitan dengan kondisi dan letaknya di dalam tanah, lapisan pengandung air (aquifer) tersebut biasanya dibedakan menjadi sebagai berikut :
  1. lapisan pengandung air tanah yang bebas atau tidak terbatas (unconfined aquifer). Lapisan ini di bagian bawahnya terdapat/ dibatasi oleh lapisan kedap air, sedang disebelah atasnya berupa muka air yang berhubungan dengan atmosfer.
  2. Lapisan pengandung air tanah yang tertekan/ terbatas (confined aqufer). Lapisan ini di bagian atas dan di bagian bawahnya dibatasi oleh lapisan kedap air.
  3. Lapisan pengandung air tanah tumpang (perched aquifer). Lapisan ini terletak di atas lapisan kedap air yang tidak begitu luas, berada pada zona aerasi di atas water table. Karena volume air pada lapisan ini mengandung air tanah tidakbanyak maka perched aquifer kurang dapat diandalkan sebagai sumber air.
Pemanfaatan air tanah untuk pengairan dengan memanfaatkan air yang berasal dari mata air dengan teknik penyedotan sampai saat ini masih terbatas.

Umumnya pengairan yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan aliran sungai.

Alasan keterbatasan penggunaan air sumber mata air ini adalah:
  1. Kebanyakan lapisan pengandung air tanah berada jauh di dalam tanah, yang sulit untuk penggaliannya
  2. Penggunaan alat penyedot air memerlukan biaya yang tidak kecil bagi ukuran hidup para petani.
  3. Menghindari mengeringnya sumber-sumber air tanah (konservasi air)
  4. Kesadaran para petani sehubungan dengan pengetahuannya yang meningkat, bahwa penggunaan air tanah yang berlebihan dapat mengakibatkan :
    • penurunan permukaan tanah;
    • perembesan air asin, yang dapat berakibat tidak dapat dimanfaatkannya air tanah tersebut.
Pengambilan air tanah untuk kepentingan pengairan pertanian hanya dilakukan terbatas dan itupun hanya dilakukan dibeberapa daerah tertentu, pada saat-saat musim kemarau.

Penggunaan air tanah yang terus menerus secara berlebihan, akan mengakibatkan perembesan air laut ke daratan melewati garis pantai.

Dengan berkembangnya pembangunan industri-industri besar di daerah-daerah perkampungan, para pengusaha industri dituntut agar tidak menggunakan air tanah secara berlebihan.

Secara ringkas bagaimana pergerakan air dimuka bumi ini digambarkan pada Gambar 40 dibawah ini.

Daerah aliran sungai (DAS)

Sebagai telah dikemukan, sungai berfungsi sebagai penyalur air hujan pada suatu daerah aliran sungai.

Demikian pentingnya nilai daerah aliran sungai tersebut, terutama bagi pertanian dan pencegahan- pencegahan peluapan air.

Pemeliharaan kawasan ini perlu diupayakan secara serius agar tidak terjadi kerusakan lingkungan.

Daerah aliran sungai berdasarkan pola-polanya dibedakan menjadi :

a. Daerah aliran sungai dengan pola ”Bulu Burung”.

Di daerah aliran sungai ini selain terdapat sungai utama, tidak jauh daripadanya, disebelah kiri dan kanan terdapat pula sungai- sungai kecil atau anak-anak sungai.

Sewaktu hujan mengguyur daerah ini anak-anak sungai akan berfungsi pula mengalirkan air hujan yang mengalir ke dalamnya, dengan demikian debit air yang meluap pada sungai utama dan anak-anak sungainya akan tetap kecil, dengan demikian kalaupun terjadi banjir akan berlangsung lambat, sedang pembuangannya berlangsung cepat.

b. Daerah aliran sungai dengan pola ”Radial/Melebar”.

Di daerah aliran sungai inipun terdapat sungai utama/ besar, dengan beberapa anak sungainya, hanya anak-anak sungai tersebut melingkar dan akan bertemu dengan sungai utamanya pada suatu titik (daerah), sehingga kalau digambarkan akan berbentuk bagaikan kipas. Terkumpulnya curah hujan di daerah aliran sungai ini, dengan sebagian mengalir dan sebagian mengalir ke sungai utama dan terbagi lagi ke anak-anak sungainya, yang kemudian bertemu pada suatu titik/ suatu daerah, akan mengakibatkan banjir besar di daerah pertemuan tersebut.

c. Aliran sungai dengan pola ”Paralel/Sejajar”.

Daerah aliran sungai ini terdiri dari 2 jalur daerah aliran, yang memang paralel, yang dibagian hilir keduanya bersatu sehingga merupakan satu sungai besar. Sewaktu curah hujan mengguyur daerah-daerah di sekitar aliran sungai tersebut, maka pada daerah hilir dimana terjadinya pertemuan tadi akan terjadi peluapan- peluapan air yang cukup besar.

Terjadinya peluapan-peluapan air (banjir) seperti dikemukakan di atas memang di daerah-daerah tertentu dapat membawa dan menyampaikan unsur-unsur hara dan atau mineral tertentu yang dapat menyuburkan tanaman dan tanahnya, akan tetapi jika dibandingkan dengan kerugian yang ditimbulkan (seperti erosi, pelongsoran, tersapunya tanaman yang dibudidayakan, hancurnya rumah-rumah penduduk, dan lain- lain) maka kerugian itu adalah jauh lebih besar.

Terlebih lebih kalau akibat pengikisan-pengikisan tanah lapisan permukaan tadi mengakibatkan bagian-bagian tanah yang tersisa menjadi sangat kurus/tidak produktif, sangat melarat akan unsur-unsur hara dan mineral yang diperlukan tanaman.

Karena itulah maka perlindungan terhadap daerah-daerah aliran sungai perlu diperhatikan.

Gambar berikut merupakan ilustrasi bagaimana drainase mempengaruhi ketersedian dan pola penyebaran hara.
Gambar Manajemen pengairan merubah distribusi garam tanah
Gambar Manajemen pengairan merubah distribusi garam tanah