Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teknik Budidaya Hidroponik

Hidroponik berasal dari kata Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu hudor dan ponos. Hudor artinya air sedangkan ponos artinya kerja atau daya. Secara harfiah hidroponik artinya memberdayakan air.

Pengertian yang lebih luas dari hidroponik adalah: teknik bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya.

Prinsip budidaya tanaman secara hidroponik adalah memberikan/menyediakan nutrisi yang diperlukan tanaman dalam bentuk larutan dengan cara disiramkan, diteteskan, dialirkan atau disemprotkan pada media tumbuh tanaman.

Keuntungan dan kelebihan
  1. Keberhasilan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi lebih terjamin
  2. Dapat dilakukan dimana saja tidak tergantung sifat fisik dan kimia tanah, dan dapat dilakukan pada lahan yang sempit ataupun gersang.
  3. Produktivitas tanaman lebih tinggi serta lebih kontinu
  4. Perawatan terhadap gangguan hama dan penyakit lebih terkontrol serta lebih praktis
  5. Pertumbuhan tanaman lebih cepat
  6. Kualitas hasil lebih baik (bersih & tidak rusak)
  7. Penggunaan pupuk lebih hemat (efisien)
  8. Efisiensi tenaga kasar (misalnya mencangkol, membajak, dan lain-lain)
  9. Beberapa jenis tanaman dapat ditanam diluar musim nya.
  10. Tidak ada risiko kebanjiran, erosi, kekeringan atau ketergantungan pada kondisi alam
  11. Harga jual relatif lebih tinggi
Prinsip-prinsip dasar hidroponik dapat diterapkan dalam macam - macam cara, yang dapat disesuaikan dengan persyaratan finansial maupun keterbatasan ruang.

Metoda Bercocok Tanam Hidroponik

Metoda bercocok tanam hidroponik dapat dibagi menjadi 7 (tujuh) katagori berdasarkan media tempat tumbuh tanaman, yaitu:
  1. Metoda Kultur Air
  2. Metoda Substrat
  3. Metoda Nutrient Film Technique (NFT)
  4. Metode Aeroponik
  5. Hidroponik Rakit Apung (Floating raft hydroponic system)
  6. Kombinasi NFT-Rakit Apung
  7. Kombinasi Aeroponik- Rakit Apung
Metode Kultur Air

Metode ini menggunakan air sebagai media tumbuh tanaman.

Pada metoda ini tumbuhan ditanam semata-mata dalam air, yang dilengkapi dengan larutan zat makanan.
Gambar Komponen-komponen penyusun dalam kultur air
Gambar Komponen-komponen penyusun dalam kultur air
Wadah/tempat/pot dapat berupa stoples, tabung kaca, plastik, dan lain-lain yang disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam dan wadah yang tersedia.
Gambar Salah satu stoples kaca sebagai wadah hidroponik
Gambar Salah satu stoples kaca sebagai wadah hidroponik
Cara penanaman dengan metode kultur air

Tahapan persiapan

Menanam dengan menggunakan metode kultur air merupakan cara yang paling sederhana dan murah.

Cara bercocok tanam dengan metode ini, paling cocok jika menggunakan wadah/pot yang hanya memuat satu atau dua tanaman dalam satu pot.

Bahan pot yang digunakan dapat dari kaca bening, vas bunga, mangkuk. Pot dari tanah liat maupun botol-botol bekas.

Penggunaan wadah yang terbuat dari kaca bening sangat menarik karena hal ini menjadikan perakaran tersebut sebagai bagian dari keindahan tanaman itu sendiri, bersama dengan daun dan bunganya.

Agar akar tanaman dapat bertumpu tegak pada tempatnya kita dapat menggunakan kerikil, pasir, atau potongan batu bata yang sebelumnya telah dibersihkan dahulu dengan air panas.
Gambar Menanam tumbuhan dalam air dengan menggunakan gabus dan kapas sebagai penyangga
Gambar Menanam tumbuhan dalam air dengan menggunakan gabus dan kapas sebagai penyangga
Seluruh alat yang kita gunakan dalam budidaya hidroponik ini harus terlebih dahulu disterilkan, dengan menggunakan sikat dan air panas.

Pembibitan

Cangkok

Kebanyakan tanaman dapat ditumbuhkan tanpa kesulitan yang besar dari benih-benihnya dan sejumlah tanaman-tanaman lain dapat ditumbuhkan dari cangkokan.

Benih dari berbagai jenis tanaman dapat dibeli dari toko- toko maupun perusahaan yang cukup banyak jumlahnya.

Suatu cangkokan ialah sepotong tanaman yang dipisahkan dari akar, batang atau daun sebuah tanaman yang telah dewasa.

Cangkokan itu ditempatkan dalam sejenis media penanaman dan dirawat dengan baik, agar potongan ini dapat berkembang menjadi satu tanaman tersendiri yang berasal dari induk jenisnya.

Benih

Untuk sumber bibit yang berasal dari benih maka harus disemaikan terlebih dahulu.

Ada beberapa benih yang mudah berkecambah akan tetapi ada sebagian yang sulit. Untuk benih yang membutuhkan perlakukan khusus atau yang sulit berkecambah maka perlu dilakukan persemaian. Umumnya benih tanaman yang relatif lebih besar dapat ditanam secara langsung pada wadah yang telah disiapkan, sebaliknya benih yang kecil maka harus disemai terlebih dahulu baru dilakukan pindah tanam.

Yang harus diperhatikan dari penggunaan sumber bahan tanam dari benih ini adalah bahwa setiap benih memerlukan kebutuhan-kebutuhan khusus yang berbeda.

Benih-benih ini dapat dikecambahkan pada bak kecambah atau wadah lainnya.

Pindah tanam

Tanda awal dari bibit dapat dipindahtanamkan adalah telah kelihatan 2 daun pada bibit yang telah berkembang sempurna.

Gunakan sebuah sendok untuk menggali semaian dari tempatnya. Lakukan dengan hati-hati agar bibit tidah patah.

Jangan memegang bibit pada batangnya, karena batang itu sangat rapuh bahkan kalau dilakukan dengan hati-hati tetap dapat merusaknya secara fatal. Juga tidak dibenarkan memegang semaian pada akarnya.

Jika tanaman pada awalnya kita bibitkan terlebih dahulu pada media tanah, maka sebelum ditanam dengan sistem hidroponik terlebih dahulu akarnya dibersihkan dari tanah dan kotoran yang menempel.

Untuk bahan tanaman yang berasal dari cangkok, maka berikut ini cara praktis untuk memindahkannya.
  1. Bentangkan lembaran-lembaran surat kabar di atas sebuah meja atau tempat bekerja.
  2. Tempatkan sebelah tangan di atas permukaan tanah dari tanaman, dan letakkan batangnya dengan kukuh diantara 2 jari.
  3. Pegang dasar pot dengan tangan, kemudian dengan hati-hati tarik keluar tanaman beserta akar-akarnya, serta tanah yang melekat padanya.
  4. Kalau tanaman masih tidak mau lepas, benturkan pot dengan hati-hati beberapa kali pada satu permukaan yang keras. Kalau masih juga belum dapat dilepas; gunakan pisau yang tumpul untuk mengorek bagian atas dari tanah.
  5. Hilangkan semua, gumpalan tanah yang masih melekat pada akar-akar tanaman
  6. Bilas dengan air hangat
  7. Jangan menambahkan larutan zat makanan apa pun, pada awal pindah tanaman cangkokan karena dapat menyebabkan tanaman stres. Setelah lewat seminggu, buanglah airnya baru dimasukkan air lain yang dicampur dengan larutan zat makanan.
  8. Buat sanggahan dalam bentuk selapis kerikil, atau pecahan gerabah, arang kayu atau batu bata. Potongan arang kayu dapat bertindak sebagai penyaring alami dan membuat air tetap jernih serta mencegah tumbuhnya lumut.
Penanaman

Terlebih dahulu siapkan wadah tempat pertanaman yang besar kecilnya disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan dibudidayakan.

Pada bagian atas dari wadah tutup dengan gabus, tutup gabus ini dapat dilubangi, yang lubangnya disesuaikan dengan besar kecilnya tanaman.

Kemudian letakkan tanaman pada lubang gabus tadi dan agar tidak goyah sumbat dengan kapas steril.

Sumber air irigasi untuk pertanaman ini dapat menggunakan air dari perusahaan air minum ataupun air sumur yang terlebih dahulu dicek pH nya.

Perawatan

Perawatan yang terpenting dari metode penanaman secara hidroponik ini adalah penggantian air dan pengecekkan pH secara teratur.

Pemupukan

Sewaktu pemberian hara pada tanaman maka pH juga perlu diperhatikan pH yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Jumlah dan konsentrasi pupuk yang ditambahkan dipengaruhi oleh jenis dan fase pertumbuhan tanaman.

Konsentrasi hara yang terlalu tinggi akan berakibat pada rusaknya perakaran tanaman.

Untuk menghemat waktu maka penyiapan hara dapat dilakukan seminggu sekali dengan mencampur hara dalam galon yang kemudian menyimpannya.

Sirkulasi air

Air yang ada dalam wadah hidroponik, sebaiknya diganti setiap 3 atau 4 minggu sekali, bergantung pada jenis tanamannya.

Tujuan penggantian air adalah untuk menghindari timbulnya ganggang atau lumut yang dapat menggagu tanaman.

Metode Substrat

Yaitu menumbuhkan tanaman dalam media padat (bukan tanah), umunya digunakan untuk mengusahakan sayuran atau buah yang bernilai tinggi.

Media padat antara lain dapat arang (kayu, sekam padi), pasir, perlit, zeolit, gambut, kerikil, potongan sabut kelapa, pakis, pecahan genteng/batu bata, batu apung, dan sebagainya

Larutan nutrisi diberikan dengan cara disiram / dialirkan lewat sistem irigasi. Sistem irigasi yg biasa dipakai pada Hidroponik Substrat yaitu sistem air mengalir ataupun irigasi tetes (drip irigation).

Pada sistem air mengalir: air/larutan hara dialirkan terus sehingga tidak ada air yang tergenang.

Kelebihan sistem irigasi ini dibandingkan dengan air menggenang yaitu zat hara yang tercampur dalam air tidak mengendap sehingga akar tetap menyerap zat hara dalam konsentrasi yang sama dan tidak menimbulkan cekaman.


Gambar Beberapa hidroponik sustrat
Gambar Beberapa hidroponik sustrat
Nutrient Film Technique

Yaitu model budidaya hidroponik dengan meletakkan akar tanaman pada lapisan air (nutrien) yg sangat tipis (± 3 mm) sebagai medianya.

Umumnya metode ini digunakan untuk sayuran berumur pendek (misalnya: pakchoy, caysim, lettuce, kailan, bayam dan kangkung).

Sayur Buah seperti Tomat, paprika & mentimun juga dapat dibudidayakan dengan cara ini tetapi dibatasi hanya 2-3 talang per bed agar tanaman tumbuh melebar.

Keunggulannya:
  1. Air yang diperlukan tidak banyak
  2. Kadar O2 terlarut dalam larutan hara cukup tinggi
  3. Air sebagai media mudah didapat dengan harga murah
  4. pH larutan mudah diatur
  5. Ringan, sehingga dapat disangga dengan talang
  6. Wadah berupa selokan panjang yang sempit terbuat dari plat logam tipis tahan
Gambar Hara pada Bak dialirkan dengan bantuan pompa masuk ke paralon berbentuk O. Dari paralon tersebut nutrien dialirkan ke talang penanaman dan melalui selang inlet akan mengalir dalam talang yang dibuat miring akan masuk kembali ke dalam paralon melalui selang outlet menuju tangki penampungan
Gambar Hara pada Bak dialirkan dengan bantuan pompa masuk ke paralon berbentuk O. Dari paralon tersebut nutrien dialirkan ke talang penanaman dan melalui selang inlet akan mengalir dalam talang yang dibuat miring akan masuk kembali ke dalam paralon melalui selang outlet menuju tangki penampungan
Aeroponik

Prinsip kerja aeroponik: air yg berisi larutan hara disemprotkan dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman yg menggantung.

Pada sistem ini tanaman ditanam dengan cara menggantung di dalam suatu bak.

Agar dapat berdiri, pangkal batang dimasukkan ke dalam helaian Styrofoam (2 cm) yang telah dilubangi.

Daya dukung styrofoam setebal 2 cm tidak dapat dibebani dengan biomass tanaman yg terlalu berat (berat maksimum yg dapat disangga styrofoam sekitar 3 kg/m² agar styrofoam tidak melengkung/ pecah/ patah.
Gambar Sayuran yang ditanam dengan aeroponik
Gambar Sayuran yang ditanam dengan aeroponik
Sayuran yang dapat ditanam dengan aeroponik adalah pakchoy, caysim, kailan, lettuce, bayam, kangkung, serta sayuran lain yang ringan. Untuk tanaman tomat, paprika, timun, terong, kurang sesuai ditanam dengan metode ini karena terlalu berat.
Plastik dipasang untuk menampung larutan hara yang tidak diserap tanaman. Diatasnya diberi rangka untuk menyangga styrofoam
Selang PE yg diletakkan di dasar plastik, sebagai tempat mengalirnya larutan hara
Selang PE yg masuk ke dalam plastik, berguna untuk mengalirkan larutan hara
Paralon dibawah plastik digunakan untuk menampung sisa larutan yang tidak terserap tanaman kemudian mengalirkannya ke tandon (tempat penampungan)
Akar yang dibiarkan menjuntai akan menyerap larutan hara yang disemprotkan melalui sprinkler

Hidroponik Rakit Apung

Metode ini adalah cara menanam tanaman dengan cara diapungkan di permukaan air, atau akar tanaman menjuntai ke dalam air. Styrofoam digunakan di atas air yg diberi lubang untuk menancapkan bibit sayur (bibit bisa diganjal dengan busa agar dpt berdiri dan tidak jatuh ke dalam air.

Keuntungannya:
  1. Jika aliran listrik mati selama seharipun, pertumbuhan tanaman tidak terpengaruh
  2. Pemakaian listrik sangat sedikit hanya untuk menjalankan pompa pada saat mengisi air ke kolam dan menjalankan aerator
  3. Perawatan instalasinya relatif mudah dan murah karena tidak memerlukan pompa air khusus, timer, selang polyethylene, dan lain lain.
Kekurangannya:

Biaya awal untuk membuat kolam cukup besar, dan kemungkinan kebocoran cukup tinggi.
Hidroponik rakit apung. Tanaman diapungkan diatas kolam
Papan dibuat melintang, untuk Memudahkan menanam bibit di Bagian tengah
Akar Tanaman dibuat menjuntai untuk menyerap larutan hara
Caisim Ditanam bersama kailan dalam Rakit apung

Kombinasi Nutrient Film Technique (NFT) dengan Rakit Apung

Metode ini dibuat untuk memanfaatkan larutan hara yang terdapat dalam tandon (bak/ reservoir). Dari bak tersebut larutan hara disirkulasi kembali ke bed untuk memberi makan tanaman. Bak tersebut dimanfaatkan sebagai tempat hidroponik rakit apung
Kombinasi Hidroponik Nutrient Film Technique dengan Hidroponik Rakit Apung
Persiapan Penanaman kombinasi Antara aeroponik & Hidroponik Rakit Apung
Kombinasi Hidroponik Rakit apung dengan Aeroponik. Larutan hara yg terkumpul dalam tandon (kolam), dimanfaatkan untuk hidroponik Rakit apung

Vertikultur

Vertikultur adalah teknik bercocok tanam yang dilakukan dengan menempatkan media tanam dalam wadah-wadah yang disusun secara vertikal (ke atas)

Wadah dapat berupa pot atau kolom

Keuntungannya:
  1. dapat bertani di lahan sempit
  2. dapat dilaksanakan pada daerah dengan kondisi lahan yang kurang subur
  3. pada prinsipnya sama dengan tanaman yg ditanam di pot, tidak tergantung pada kondisi lahan setempat
  4. Tida k terlalu menyita waktu
  5. Perawatan mudah
  6. lebih menghemat penggunaan air

Gambar Pot dan Pipa PVC yg disusun vertikal menyerupai rak
Gambar Pot dan Pipa PVC yg disusun vertikal menyerupai rak
Gambar Beberapa peralatan dan cara pembuatan lubang tanam pada kolom vertikal bambu
Gambar Beberapa peralatan dan cara pembuatan lubang tanam pada kolom vertikal bambu
Gambar Teknik pembuatan lubang tanam pada wadah tanam
Gambar Teknik pembuatan lubang tanam pada wadah tanam
Gambar Wadah yg telah siap diisi mediaTanam & ditanami
Gambar Wadah yg telah siap diisi mediaTanam & ditanami
Gambar Beberapa model susunan kolum horizontal bambu (Sket)
Gambar Beberapa model susunan kolum horizontal bambu (Sket)
Gambar Kolom Horizontal bambu yang telah disusun dan siap untuk ditanami
Gambar Kolom Horizontal bambu yang telah disusun dan siap untuk ditanami
Gambar Sawi/ Caisin yang dibudidayakan dalam kolom vertikal paralon
Gambar Sawi/ Caisin yang dibudidayakan dalam kolom vertikal paralon
Gambar Slada yang dibudidayakan dalam kolom vertikal paralon
Gambar Slada yang dibudidayakan dalam kolom vertikal paralon
Gambar Sawi sendok yg dibudidayakan secara vertikal
Gambar Sawi sendok yg dibudidayakan secara vertikal
Metoda Arus Kontinyu

Metoda ini menuntut digunakannya 3 buah tempat, yang harus diatur sedemikian rupa sehingga lokasinya bertingkat-tingkat antara satu dengan lainnya.
  1. Tempat yang letaknya paling tinggi berisikan larutan zat makanan. Dari tempat ini dipasang sebuah pipa atau sejenis saluran yang bersambungan dengan tempat di tengah
  2. Tempat yang ditengah merupakan tempat tanaman. Pada tempat ini dipasang sebuah pipa atau saluran dekat lantai sehingga dapat mengantar larutan zat makanan.
  3. Tempat ke tiga ini merupakan tempat penampungan larutan zat makanan.
Dengan cara ini arus larutan zat makanan mengalir secara kontinyu, kalau tempat yang letaknya paling atas menjadi kosong, dapat diisi dari tempat yang berada paling bawah.
Gambar Salah satu contoh hidroponik dengan menggunakan metoda arus kontinyu
Gambar Salah satu contoh hidroponik dengan menggunakan metoda arus kontinyu
Sistem seperti ini memang baik, tetapi sebenarnya tidak praktis, disebabkan oleh:
  1. Sulit untuk menentukan laju aliran larutan zat makanan agar tidak mengalir terlalu cepat atau tidak terlalu lambat, untuk itu diperlukan sejumlah pengetesan yang tidak mudah.
  2. Kesulitan lain untuk mengambil alih sistem ini bagi perumahan, ialah harus adanya pemasukan oksigen secara teratur ke dalam larutan zat makanannya.

Media Hidroponik

Batu bata

Penanaman hidroponik dapat menggunakan pot bunga yang dapat diisi dengan berbagai media tergantung sumberdaya yang tersedia.

Sistemnya hampir sama dengan menggunakan tanah, tetapi tanah digantikan dengan potongan-potongan batu bata.

Pecahan batu bata dapat digunakan sebagai alternatif medium penanaman bukan tanah.

Medium ini dapat digunakan, tapi kurang praktis, karena sulit dikelola. Sebelum digunakan batu bata ini harus digosok bersih dan material komponennya dapat mengurai dan dapan mempengaruhi kestabilan pH larutan hara.

Pasir

Media hidroponik juga dapat menggunakan pasir. Sejak tahun
30 an pasir merupakan pilihan yang sering dipakai.

Keuntungan menggunakan media pasir ini adalah:
  • Sifatnya steril
  • Dapat mempertahankan kelembaban media dengan baik.
Gambar Hidroponik dengan menggunakan pasir
Gambar Hidroponik dengan menggunakan pasir
Pemberian hara dan air dapat dilakukan dengan penyiraman atau sistem tetes.

Kerikil

Beberapa kekurangan- kekurangan menggunakan pasir sebagai media hidroponik dapat digantikan dengan kerikil.

Salah satu kelemahan media pasir adalah media ini terlalu lembab, dan boros hara karena banyak tercuci.

Oleh karenanya penggunaan kerikil akhir-akhir ini, lebih disukai daripada pasir.

Berikut ini adalah prosedur kerja penanaman hidroponik dengan menggunakan media kerikil .
  • Isikan sepertiga dari lantai pot dengan kerikil steril yang berukuran besar dan yang berukuran kecil untuk mengisi sisa pot
  • Letakkan tanaman pada posisinya, yang akarnya sudah terlebih dahulu dibersihkan dari bekas- bekas tanah. Cuci akar pada air mengalir, untuk menghilangkan semua sisa kotoran yang menempel. Usahakan agar akar-akarnya jangan patah.
  • Letakkan tanaman ke dalam pot, sementara untuk menyanggah tanaman agar tegak, masukkan dengan pelan- pelan kerikil secukupnya, kemudian tambahkan lagi kerikil sampai pot penuh.
Batas antara bagian yang tertutup media dengan yang tidak, dapat diketahui dengan memperhatikan warna batangnya, warna yang lebih gelap berada di bawah sedangkan warna yang lebih cerah berada di atas.

Kerikil merupakan satu pilihan terbaik, untuk penanaman hidroponik di rumah. Salah satu kelebihan kerikil ini adalah steril dan tidak terlalu lembab. Berat bobotnya dapat dikelola tanpa kesukaran dan harganya tidak mahal.

Akan tetapi kerikil ini harus dicampur dengan media lainnya misalnya pasir, karena media ini mudah sekali mengering, sehingga memerlukan penggunaan air yang sering.

Perbandingan yang ideal antara pasir dengan kerikil adalah 5 bagian kerikil dan 3 bagian pasir.

Vermikulit dan perlit

Vermikulit dan perlit lebih mudah dikelola. Kedua media ini berasal dari mineral, partikel- partikel yang berbobot berat dan telah dipanaskan sehingga mengembang dan memiliki daya serap sedangkan bobotnya berubah menjadi ringan.

Perlit dapat digunakan tanpa tambahan material lain. Akan tetapi jika menggunakan vermikulit, maka perlu dicampur dengan pasir karena terlalu basah. maka materi ini harus dicampur dengan pasir kasar pada rasio perbandingan 2 bagian vermikulit terhadap satu bagian pasir.

Serbuk kayu

Serbuk kayu dapat digunakan sebagai medium penanaman bukan tanah. Tapi serbuk kayu mempunyai kecenderungan untuk menggumpal dan menempel pada akar akar tanaman serta menjadi kompak jika terkena air.

Jerami dan rumput kering

Jerami dan rumput kering yang terbuat dari material organis, pada saatnya akan membusuk dan mengurai sehingga menyebabkan perubahan komposisi larutan hara, yang berakibat pada tanaman.

Disamping itu, bahan jerami ini dapat mengandung penyakit atau hama yang mematikan tanaman.
Gambar Tanaman tomat yang ditanam pada jerami kering
Gambar Tanaman tomat yang ditanam pada jerami kering

Larutan hara

Seluruh budidaya hidroponik membutuhkan hara secara teratur. Cara bercocok tanam ini membuka kesempatan untuk menyediakan larutan zat makanan pada tanaman dengan tepat.

Metoda umum untuk menyediakan zat hara bagi sebuah unit hidroponik, ialah dengan melarutkan garam- garam zat hara satu per satu atau menggunakan pupuk yang sudah dicampur dan siap dipakai serta dapat dibeli di pasar.

Keduanya harus dilarutkan dalam air, kemudian dipompakan atau di tuangkan di atas bahan perantara penanamannya.

Dewasa ini sudah ada sejumlah hara atau pupuk yang siap pakai dan dijual dipasaran.

Yang perlu diperhatikan adalah mengukur konsentrasi yang tepat dari larutan hara tersebut.

Untuk pemula dianjurkan menggunakan salah satu dari campuran zat makanan tanaman yang siap pakai.

Jika ingin melakukan pencampuran sendiri zat makanan tanaman, maka kita dapat membelinya masing masing jenis yang dibutuhkan di toko-toko, tanaman dan memperhatikan manfaat dari hara tersebut.

Pada tabel di bawah diberikan beberapa jenis hara dan manfaatnya bagi tanaman.

Sumber hara

Dalam bentuk siap pakai

Sumber hara untuk penanaman dengan hidroponik ini dapat menggunakan pupuk organik dan anorganik.

Jumlah yang diberikan kepada tanaman tergantung pada jenis, umur, dan fase pertumbuhan tanaman.

Pupuk (dalam bentuk siap pakai) untuk sistem pertanian ini banyak tersedia dipasar, atau dapat juga dengan mencampur sendiri larutan pupuknya.

Sumber hara yang digunakan dapat dibeli dari toko atau meramunya sendiri (mencampur).

Mencampur sendiri

Terdapat puluhan formula untuk campuran larutan hara tanaman.

Formula yang diberikan disini, sangat sesuai dengan kebutuhan para pemula karena hanya mengandung beberapa garam pupuk yang bisa didapat. Beberapa alat yang dibutuhkan untuk mencampur pupuk adalah:
  1. Mangkuk besar yang bersih atau tempat mencampur dan mengaduk bahan-bahan komponen hara tanaman.
  2. Timbangan, alat digunakan untuk memberikan jumlah yang benar.
  3. Pengaduk atau mortal setelah semua garam dimasukkan gunakan mortal untuk menghancurkan kristal-kristal yang ada dalam garam. Setelah semua dicampur, aduklah dengan tuntas dan hancurkan kristal yang ada.
Akhir dari pekerjaan ini akan dihasilkan tepung yang lembut, simpan campuran ini dalam satu tempat yang bersih, kering dan tertutup.

Campuran ini dipertahankan agar tetap kering, sampai harus dilarutkan dalam air dan digunakan pada tanaman.

Untuk dapat digunakan sebagai sumber hara cukup melarutkan 10 gram yang dilarutkan dalam satu gallon air. Atau sekitar 1 sendok teh bahan adukan dilarutkan di dalam 1 gallon air. Aduk sampai sampai garamnya benar-benar larut dengan baik.

Teknik Perawatan

Perawatan media tanam

Sampai berapa kali larutan hara sebaiknya diberikan pada suatu unit hidroponik

Medium hidroponik dijaga agar tidak terlalu kering atau terlalu basah.

Satu-satunya cara untuk menentukan frekuensi yang tepat, ialah dengan belajar mengetahui sifat mediumnya. Berapa lama medium tadi menjadi kering atau kekurangan air. Setelah mengetahui hal ini, baru dapat ditetapkan frekuensi yang harus diterapkan untuk memberikan larutan hara.

Atau dapat juga menggunakan pengatur waktu, agar larutan secara otomatis dialirkan pada waktu yang tepat.

Berapa banyak larutan hara yang harus di gunakan

Salah satu cara untuk mengetahui kelembaban media adalah ibarat seperti spon basah yang telah diperas seperti itulah ciri media yang lembab.

Cara lainnya adalah kenali tanamannya. Setiap tanaman akan memberikan respons terhadap pemberian hara, maka kondisi tanaman dapat digunakan sebagai indikator kebutuhan hara.

Membersihkan peralatan

Syarat utama dalam budidaya hidroponik ini adalah penggunaan alat yang bersih dan steril.

Alangkah baiknya jika kita dapat mencuci peralatan baik pot maupun medianya sekitar dua minggu sekali.

Hal ini berguna untuk meniadakan penimbunan larutan zat makanan yang tidak digunakan di dalam medium pertumbuhannya.

Penggunaan ulang larutan

Larutan yang telah digunakan dapat kita gunakan kembali akan tetapi harus diyakini bahwa larutan tersebut tidak rusak/berubah komposisinya.

Pada beberapa green house modern umumnya mempunyai peralatan dan ketrampilan yang dapat menentukan apakah zat hara tersebut dapat dipakai lagi atau tidak.

Jika ingin menggunakan hara yang di daur ulang (untuk menghemat secara ekonomis dan lingkungan) sebaiknya membatasi penggunaan satu adukan larutan selama 3 atau 4 hari.

Jika ditemukan tanaman- tanaman, mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan zat makanan, maka sebaiknya mengganti larutan hara setiap 2 hari sekali.

Mengukur pH

Istilah pH digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau alkalinitas dari bahan.

Pengelola hidroponik harus secara khusus memperhatikan pH ini baik pada air ataupun pada larutan hara yang digunakan.

Pengaturan pH begitu pentingnya, karena jika larutan

terlalu asam atau alkalin sejumlah komponen zat vital di dalam larutan hara akan mengendap menjadi garam yang tidak larut. Hal ini akan menjadikan hara tersebut tidak dapat diserap tanaman.

Kondisi ini akan menunjukkan gejala-gejala dari berbagai macam kekurangan. Misalnya jika pH berada dibawah 6, menyebabkan terjadi kekurangan kalsium.

Gejala kerusakan-kerusakan juga dapat dilihat pada bagian tanaman lainnya, seperti pada sistem perakaran, terbakarnya ujung akar, daun yang layu, dan muncul bercak-bercak jaringan yang mati.

Jika larutan bersifat terlalu alkalin akan mengganggu daya serap tanaman terhadap unsur besi, sehingga menunjukkan gejala "Klorosis".

Gejala selanjutnya akibat pH masam atau alkalin adalah sulinya tanaman menyesuaikan diri dalam mengatasi gangguan lingkungan yang kurang menguntungkan.

Pengujian pH dapat dilakukan dengan kertas indikator atau alat ukur pH (pH meter) yang banyak dijual di toko pertanian.

Kondisi pH yang rendah dapat diperbaiki dengan menambahkan KOH pada air. Penambahan soda ini hanya sedikit saja, sebab basa ini bersifat kaustik. Jangan menyentuh bahan hidroksida ini kalau tangan sedang basah, sebaiknya sewaktu bekerja menggunakan soda ini bahan tersebut tidak mengenai tangan.

Pengaturan Suhu

Proses fsisik dan kimiawi pada tumbuhan dikendalikan oleh suhu. Pada umumnya proses metabolisma tumbuhan bergantung pada kisaran suhu tertentu.

Misalnya laju serapan hara, proses ini akan menurun jika suhu lingkungan rendah.

Setiap jenis tumbuhan menghendaki kisaran suhu tertentu yang paling sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya yang biasa disebut suhu optimum.

Untuk tanaman tropis tentunya akan lebih menyukai suhu yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman sub tropis.

Kemampuan tanaman untuk beradaptasi pada kondisi perubahan suhu terlihat dari laju pertumbuhan dan perkembangannya yang baik.

Keseimbangan persenyawaan dalam sistem tubuh tanaman juga dipengaruhi oleh suhu. Sejumlah proses-proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman mempunyai hubungan dengan suhu.

Pada umumnya tanaman tumbuh baik pada kisaran suhu minimum dan maksimum sekitar 5-350C. Suhu optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman tergantung pada species, tahapan proses fisiologis tanaman, dan fase pertumbuhan tanaman.

Pengaturan suhu pada sistem hidroponik ini dapat dilakukan dengan memasang termometer pengukur suhu udara.

Kelembaban Relatif

Kelembaban relatif menyatakan jumlah persentase uap air dibandingkan dengan volume seluruh uap air yang dapat dikandung udara.

Kelembaban udar penting diperhatikan karena banyak jenis tanaman yang dibudidayakan awalnya berasal dari daerah sub tropis, dengan kondisi kelembaban udara yang tinggi.

Bahkan untuk tanaman-tanaman yang telah dikembangkan selama ribuan tahun dan telah menyesuaikan diri dengan kelembaban dan temperatur yang lebih rendah, juga lebih menyenangi tingkat kelembaban yang lebih tinggi dari keadaan alami mereka.

Pada unit hidroponik, persediaan air juga dapat habis, pada keadaan konsentrasi larutan hara yang tinggi. Keadaan ini menyebabkan air dari dalam tubuh tanaman tertarik keluar.

Tanaman pada kondisi ini akan mengalami kesulitan dan tidak mampu untuk melaksanakan proses metabolisme.

Pengaturan kelembaban udara pada unit hidroponik dapat dilakukan dengan:
  • Pengaturan sirkulasi udara dengan menggunakan kipas angin
  • Membasahi lantai dengan air
  • Menyemprotkan/memom pakan uap air pada ruangan
  • Meletakkan beberapa wadah/baskom besar yang berisi air pada ruangan
Cahaya

Cahaya merupakan bagian yang esensial dari proses fotosintesa.

Proses fotosintesa akan berhenti kalau tidak tersedia cahaya yang cukup.

Cahaya mempengaruhi banyak respon tanaman, termasuk perkecambahan, pembentukan umbi, pembungaan dan sebaginya.

Oleh karenanya maka semua tanaman harus mendapatkan tempat agar mereka dapat menerima cahaya setiap hari.

Setiap jenis tanaman membutuhkan jumlah cahaya yang berbeda-beda. Terdapat sejumlah tanaman yang membutuhkan cahaya tidak langsung. Sementara lainnya membutuhkan cahaya yang cerah dan langsung, sampai beberapa jam.

Untuk menentukan berapa banyak cahaya yang masuk dalam ruangan-ruangan, dapat diketahui dengan mempergunakan alat pengukur cahaya.

Jenis tanaman yang dapat dibudidayakan

Tanaman apa saja yang ditanam dengan hidroponik
  • Tanaman bunga dan daun misal bunga mawar, begonia, sansievera (lidah mertua) dan sebaginya
  • Sayuran misalnya sayur kembang, asparagus, kacang-kacangan, bit, brokoli, kembang kol, wortel, seledri, mentimun, lobak, daun bawang, sawi, labu-labuan, bawang merah, kapri, kentang, terong- terongan, bayam, , tomat dan sebagainya
  • Buah-buahan misalnya stoberi, anggur, dan sebaginya

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya hidroponik

Kebersihan

Kebersihan pada unit dan lingkungan sekitarnya merupakan keharusan.

Singkirkan daun-daun yang jatuh atau kotoran lainnya, cucilah alas-alas pot dengan menggunakan air sabun yang panas, kemudian bilas dengan air dingin sebelum menambahkan hara.

Dua atau tiga kali setiap tahun perlu diadakan penelitian yang tuntas terhadap sistem irigasinya, kalau perlu dibongkar unitnya, sehingga pemeriksaan dan pembersihan lebih teliti.

Lingkungan dan unit yang kotor dapat menjadi sumber penularan.

Penggunaan pestisida

Pestisida organik dan anorganik dapat digunakan pada budidaya hidroponik ini.

Mereka tersedia dalam bentuk bubuk yang dapat larut atau sebagai cairan dalam bentuk konsentrat.

Fungisida dapat disemprotkan pada daun atau diberikan pada media penanamannya.

Petunjuk-petunjuk penggunaan terdapat pada kemasan yang menguraikan tentang penyakit apa yang dapat ditanggulanginya serta dosis anjuran.

Aturan penggunaan pestisida adalah:
  1. Bacalah dengan teliti uraian petunjuk yang terdapat pada kemasan.
  2. Usahakan untuk tidak menghirup udara yang keluar dari penguapan campuran bahan kimianya.
  3. Jangan menyiapkan campuran pada ruangan yang tidak berventilasi.
  4. Kalau salah satu bahan terkena pada pakaian atau tangan cuci bersih dengan air.
  5. Penyemprotan hendaknya dilakukan pada bagaian yang terkena serangan saja.
  6. Campurkan secukupnya, jangan menyisakan bahan kimia tersebut.
  7. Simpanlah wadah racun dalam suatu lemari atau daerah khusus.
Tabel Unsur hara dan sumbernya
UNSUR SUMBER
Nitrogen Nitratpotas. Preparat ini merupakan sumber dari potas maupun nitrogen; Sangat mudah larut, mudah didapat dan bertahan lama. Natrium Nitrat, merupakan sumber nitrogen. Karena sodium tidak dibutuhkan oleh tanaman. Harganya tidak mahal, sangat mudah larut, dapat bertahan lama kalau disimpan dalam tempat yang .tertutup rapat dalam kondisi kering. Kalsium Nitrat mengandung kalsium maupun nitrogen. Agak sukar untuk disimpan. Sebaiknya digunakan kalau preparat-preparat lain tidak bisa didapatkan.
Kalium Kalium Sulfat sangat mudah larut, dapat bertahan lama. Jenis ini merupakan pilihan yang terbaik. Kalium Klorida dapat digunakan kalau kalium sulfas tidak tersedia, tapi dapat menjadi bahaya kalau digunakan lebih dari beberapa hari secara terus menerus, karena unsur klorin didalam campurannya merupakan ancaman potensial bagi tanaman.
Posfat Tri superfosfat, pupuk Ini merupakan pilihan yang terbaik, meskipun superfosfat juga dapat digunakan. Tri superfosfat juga menyediakan kalsium. Super fosfat yang secara tidak sengaja tercecer di atas daun, bisa menimbulkan bintik- bintik berwarna putih yang tidak berbahaya.
Magnesium Magnesium Sulfat (garam-garam Epsom). Murah harganya, mudah larut dalam air dan tahan lama. Magnesium Nitrat dapat juga digunakan, tapi harganya lebih mahal.
Kalsium Kalsium Sulfat. Gips maupun plaster of paris mengandung sulfat kalsium. Plaster of paris lebih mudah larut.
Besi Besi sulfat, Besi klorida dan Besi sitrat. Semua dapat digunakan sebagai sumber besi. Besi sulfat dan besi klorida akan larut dalam air dingin, sementara besi sitrat hanya larut dalam air panas. Besi sitrat lebih lama dalam larutan dibanding dengan yang lain dan juga lebih stabil pada kondisi pH tinggi. Bahan ini lebih disukai karena sifat- sifatnya ini.
Mangan Mangan Sulfat harus disimpan didalam tempat yang tertutup rapat pada kondisi kering. Mangan Klorida tidak umum digunakan, akan tetapi bahan ini apat digunakan sebagai alternatif jika bahan lain tidak tersedia.
Boron Asam borak adalah sumber yang terbaik dari unsur boron. Borak juga dapat digunakan dalam keadaan darurat. Tembaga sulfat dan seng sulfat, keduanya juga mengandung unsur boron. Boron maupun mangan, sering kali ditemukan dalam jumlah yang cukup tinggi sebagai bahan kotoran di dalam garam-garam zat lainnya.
Tabel Gejala-gejala kekurangan hara
Gejala-gejala Keterangan
Proses kecepatan pertumbuhan rata-rata yang terlalu lambat.Daun- daun kehilangan warna aslinya dan menjadi hijau mud ayang tidak wajar atau menjadi kuning. Daun- daun paling rendah posisinya yang palin g pertama menderita. Nitrogen
Daun -daun berubah warna menjadi gelap dengan bercak- berc a k perubahan warna. Daun- daunnya juga bisa berubah menjadi kelabu. Sistem perakaran kurang baik perkembangannya. Fosfor
Daun- daun paling bawah posisinya m e n j a d i b e r w a r n a c o k l a t dengan bercak- bercak yang berwarna lebih gelap. Daun- daun menjadi kering, melengkung ke atas dan berwarna kuning. Potasium
Daun- daun gagal untuk berkem bang penuh, berukuran terlalu kecil, kering dan berwarna gelap. Proses pertumbuhannya berhenti d a n perkembangan akar- a kar nya kurang baik. Kalsium
Daun-daun berubah menjadi kuning. Kuncup - kuncup gagal untuk berkembang dan mekar. Terdapat totol- totol berwarna coklat pada daun, urat-urat da un tetap hijau. Magnesium
Hanya urat- urat daun berwarna hijau, sementara sisa tubuh daun kehilangan warnanya, mengering dan mengeriput. Pada ujung-ujungnya mulai terkikis. Besi
Kuncup-kuncup gagal berkembang. Laju pertumbuhan rata-rata tanaman makin lambat. Daun-daun tampak menjemur dalam pola yang kontras berwarna gelap dan muda. Mangan
Urat-urat daun berubah mengusing. Bagian-bagian daun yang paling dekat letaknya dengan batang menjadi sangat gelap warnanya. Sulfur/belerang
Batangnya pecah- pecah. Daun daunnya mengering dan kurus. Ujung- ujungnya menjadi coklat. Boron
Laju pertumbuhan rata- rata dari tanaman merosot atau sama sekali berhenti. Seng
Daun - daunnya dengan cepat menjadi berwarna coklat gelap, berlubang- lubang dan rontok. Sejumlah tanaman dengan cepat akan mati. Ada kelebihan dosis hara yang diberikan. Hal ini bersifat fatal kalau tidak segera diperbaiki. Kita dapan menurunkan konsentrasinya dengan menambah sejumlah air