Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teknik Budidaya Pisang

Salah satu buah yang digemari oleh sebagian besar penduduk dunia adalah pisang (Musa Paradisiaca L).

Buah ini digemari karena memiliki rasa yang enak, kandungan gizinya tinggi, mudah didapat, dan harganya relatif murah.

Indonesia mempunyai prospek yang baik untuk pengembangan komoditas pisang kaena iklimnya cocok untuk tanaman pisang, ketersediaan lahan, dan tenaga kerja yang melimpah.

Jenis-jenis Pisang

Pisang Ambon Lumut

Deskripsi

Pisang yang berasal dari Temanggung, Jawa Tengah ini warna kulit buahnya tetap hijau walaupun sudah matang.
Gambar Pisang ambon lumut
Gambar Pisang ambon lumut
Produksi buahnya tergolong tinggi. Setiap pohon dapat menghasilkan 7-10 sisir dengan jumlah buah 140-200.

Panjang buah 20-23 cm dengan diameter 4-5 cm. Bentuk buah memanjang dengan pangkal buah membengkok.

Kulit buahnya tipis. Daging buah berwarna putih kekuningan dengan rasa manis dan pulen.

Pisang ini termasuk genjah karena biarpun umurnya baru setahun, sudah mampu menghasilkan buah.

Pisang kapok Kuning

Deskripsi

Pisang yang berasal dari Temanggung, Jawa Tengah ini warna kulit buahnya tetap hijau walaupun sudah matang.
Gambar Pisang Kapok kuning
Gambar Pisang Kapok kuning
Produksi buahnya tergolong tinggi. Setiap pohon dapat menghasilkan 7-10 sisir dengan jumlah buah 140-200.

Panjang buah 20-23 cm dengan diameter 4-5 cm. Bentuk buah memanjang dengan pangkal buah membengkok. Kulit buahnya tipis.

Daging buah berwarna putih kekuningan dengan rasa manis dan pulen.

Pisang ini termasuk genjah karena biarpun umurnya baru setahun, sudah mampu menghasilkan buah.

Pisang Ambon Kuning

Deskripsi

Pisang ini berkulit kuning keputihan. Keunggulannya terletak pada rasa buah yang manis dan beraroma harum. Tanaman ini pertama kali dikembangkan di daerah Malang, Jawa Timur.

Panjang buahnya antara 15-20 cm. Satu pohon dapat menghasilkan 7-10 sisir dengan jumlah buah 100-150.

Bentuk buah melengkung dengan pangkal meruncing. Daging buah berwarna putih kekuningan.

Umumnya buah pisang ini tidak mengandung biji.
Gambar Pisang Ambon Kuning
Gambar Pisang Ambon Kuning
Pisang Barangan Merah

Deskripsi

Pisang ini juga berasal dari Medan. Sifatnya lebih baik dibanding barangan kuning. Buahnya diunggulkan karena memiliki rasa sangat manis, beraroma harum, dan tidak berbiji.

Disebut barangan merah karena daging buahnya berwarna kuning kemerahan.

Produksi dan ukuran buahnya tidak berbeda dengan pisang barangan kuning.

Bentuk buah melengkung dengan ujung meruncing. Kulit buah tebal berwarna kuning kemerahan berbintik cokelat.

Pisang Nangka

Deskripsi

Pisang ini kulit buahnya tetap berwarna hijau walaupun sudah matang.

Kulit buah ini agak tebal. Buahnya berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 28 cm. Bentuk buah melengkung.
Gambar Pisang Nangka
Gambar Pisang Nangka
Walaupun berukuran agak besar, pisang yang berasal dari Malang, Jawa Timur, ini hanya berbobot 150-180 g per buah.

Daging buah berwarna kuning kemerahan dengan rasa manis sedikit asam dan aroma harum.

Pisang Raja Bulu

Deskripsi

Pisang ini merupakan salah satu jenis pisang raja yang ukurannya sedang dan gemuk. Bentuk

buahnya melengkung dengan pangkal buah agak bulat. Kulitnya tebal berwarna kuning berbintik cokelat.
Gambar Pisang Raja Bulu
Gambar Pisang Raja Bulu
Daging buahnya sangat manis, berwarna kuning kemerahan, bertekstur lunak, dan tidak berbiji. Panjang buah antara 12-18 cm dengan bobot ratarata 110-120 g. Setiap pohon biasanya dapat menghasilkan rata-rata sekitar 90 buah.

Manfaat

Buahnya merupakan produk utama pisang. Pisang dimanfaatkan baik dalam keadaan mentah, maupun dimasak, atau diolah menurut cara-cara tertentu. Pisang dapat diproses menjadi tepung, kripik, 'puree', bir (Afrika), cuka, atau didehidrasi.

Daun pisang digunakan untuk menggosok lantai, sebagai alas 'kastrol' tempat membuat nasi 'liwet', dan sebagai pembungkus berbagai makanan.

Serat untuk membuat kain dapat diperoleh dari batang semunya.

Bagian-bagian vegetatif beserta buah-buah yang tidak termanfaatkan digunakan sebagai pakan ternak; bagian- bagian vegetatif itu khusus dimanfaatkan jika pakan ternak dan air sulit diperoleh (batang semu itu banyak mengandung air).

Tanaman pisang (atau daun dan buahnya) juga memegang peranan dalam upacara-upacara adat, misalnya di Indonesia, untuk upacara pernikahan, ketika mendirikan rumah, dan upacara keagamaan setempat.

Dalam pengobatan, daun pisang yang masih tergulung digunakan sebagai obat sakit dada dan sebagai tapal dingin untuk kulit yang bengkak atau lecet.

Air yang keluar dari pangkal batang yang ditusuk digunakan untuk disuntikkan ke dalam saluran kencing untuk mengobati penyakit raja singa, disentri, dan diare; air ini juga digunakan untuk menyetop rontoknya rambut dan merangsang pertumbuhan rambut. Cairan yang keluar dari akar bersifat anti-demam dan memiliki daya pemulihan kembali.

Dalam bentuk tepung, pisang digunakan dalam kasus anemia dan casa letih pada umumnya, serta untuk yang kekurangan gizi.

Buah yang belum matang merupakan sebagian dari diet bagi orang yang menderita penyakit batuk darah (haemoptysis) dan kencing manis.

Dalam keadaan kering, pisang bersifat antisariawan usus. Buah yang matang sempurna merupakan makanan mewah jika dimakan pagi-pagi sekali.

Tepung yang dibuat dari pisang digunakan untuk gangguan pencernaan yang disertai perut kembung dan kelebihan asam

Syarat Tumbuh

Dengan pertumbuhannya yang sangat cepat dan terus-menerus, yang akan mengakibatkan hasil yang tinggi, pisang memerlukan tempat tumbuh di iklim tropik yang hangat dan lembap.

Walaupun begitu, pisang ini sangat menarik sehingga orang menanamnya juga persis di batas daerah ekologinya, yang di tempat itu kecepatan tumbuh rata-ratanya hanya dapat mendukung hasil yang minim saja.

Suhu merupakan faktor utama untuk pertumbuhan.

Di sentra-sentra produksi utamanya suhu udara tidak pernah turun sampai di bawah 15°C dengan jangka - waktu yang cukup lama; suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah sekitar 27°C, dan suhu maksimumnya 38°C.

Kebanyakan pisang tumbuh baik di lahan terbuka, tetapi kelebihan penyinaran akan menyebabkan terbakar-matahati (sunburn).

Dalam keadaan cuaca berawan atau di bawah naungan ringan, daur pertumbuhannya sedikit panjang dan tandannya lebih kecil.

Pisang sangat sensitif terhadap angin kencang, yang akan merobek-robek daunnya, menyebabkan distorsi tajuk dan dapat merobohkan pohonnya.

Diperlukan pasokan air yang ajek; untuk pertumbuhan optimalnya curah hujan hendaknya 200-220 mm, dan kelembapan tanahnya jangan kurang dari 60-70% dari kapasitas lapangan, jadi sebagian besar lahan memerlukan pengairan tambahan.

Tanah yang paling baik untuk pertumbuhan pisang adalah tanah liat yang dalam dan gembur, yang memiliki pengeringan dan aerasi yang baik.

Kesuburan yang tinggi akan sangat menguntungkan dan kandungan bahan organiknya. hendaknya 3% atau lebih. Tanaman pisang toleran terhadap pH 4,5-7,5.

Pedoman Budidaya

Bibit

1. Bibit dari bonggol (bit)

2. Bibit dari anakan :
  • Tunas rebung : belum berdaun, tinggi 20-40 cm
  • Anakan muda : tunas daun telah keluar tetapi masih menggulung, tinggi 41-100 cm
  • Anakan sedang : tinggi 101-150 cm
  • Anakan dewasa : daun mekar lebih dari dua helai, tinggi 151-175 cm
3. Bibit dari kultur jaringan

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sebaiknya pisang ditanam di dataran rendah, dengan ketinggian kurang dari 1.000 m dpl. Iklim yang cocok adalah iklim basah dengan curah hujan merata sepanjang tahun, maka pisang memberikan hasil yang baik pada musim hujan dan kurang baik pada musim kemarau.

Tanah yang cocok adalah tanah yang subur, tanah liat yang mengandung kapur atau tanah alluvial dengan pH antara 4,5- 7,5.

Selain itu jenis pisang juga mempengaruhi keberhasilan penanaman pisang.

1. Pembibitan

Pisang umumnya diperbanyak dengan anakan. Anakan yang berdaun pedang-lah yang lebih disenangi petani, sebab pohon pisang yang berasal dari anakan demikian akan menghasilkan tandan yang lebih besar pada panen pertamanya (tanaman induk).

Bonggol atau potongan bonggol juga digunakan sebagai bahan perbanyakan. Bonggol ini biasanya dibelah dua dan direndam dalam air panas (52°C) atau dalam larutan pestisida untuk membunuh nematoda dan penggerek sebelum ditanamkan.

Kini telah dikembangkan kultur jaringan untuk perbanyakan secara cepat, melalui ujung pucuk yang bebas-penyakit.

Cara ini telah dilaksanakan dalam skala komersial, tetapi adanya mutasi yang tidak dikehendaki menimbulkan kekhawatiran.

Rekayasa bioteknologi pisang dengan kultur jaringan mempunyai keunggulan sebagai berikut:
  • Bibit pisang bebas dari infeksi penyakit seperti virus dan nematoda sehingga secara ekonomi lebih menguntungkan
  • Persentase hidup tanaman relatif tinggi (95%).
  • Umur berbuah lebih cepat 3-4 bulan dibandingkan dengan cara lain
  • Tanaman lebih seragam dan sesuai dengan sifat induknya
  • Waktu panen serentak sehingga memudahkan pemasaran
2. Penyiapan lahan

Lahan untuk tanaman pisang harus disiapkan dengan baik agar dapat menjadi media pertumbuhan yang subur.

Pekerjaan pengolahan lahan untuk tanaman pisang tersebut antara lain:
  • Pembajakan tanah, untuk membongkar tanah dengan kedalaman kurang lebih 7rcm agar menjadi media yang baik untuk perakaran tanaman
  • Penggaruan, yakni penghancuran bongkahan-bongkahan tanah dan meratakan tanah. Penggaruan dilakukan setelah pemotongan dan pembalikan tanah.
Penggalian lubang tanam, umumnya lubang tanam pisang berukuran 60cm X 60cm X 60cm.

3. Penanaman

Penanaman pada umumnya dilakukan pada awal musim hujan.

Kebutuhan bibit pisang untuk luas penanaman satu hektar tergantung pada jarak tanamnya. Untuk jarak tanam 6mX6m dibutuhkan 1.700 bibit, jika jarak tanam 5m x 5m dibutuhkan 2.000 bibit, sedangkan jarak tanam 4m x 4m dibutuhkan 2.500 bibit.

Bahan perbanyakan biasanya ditanamkan sedalam 30 cm.

Pisang dapat dijadikan tanaman utama atau tanaman pencampur pada sistem tumpang sari. Pisang biasanya ditanam sebagai tanaman perawat (nurse drop) untuk tanaman muda coklat, kopi, lada, dan sebagainya. Juga dapat digunakan sebagai tanaman sela pada perkebunan karet atau kelapa sawit yang baru dibangun, atau ditanam di bawah pohon-pohon kelapa yang telah dewasa.

Jika ditanam sebagai tanaman utama, pisang biasanya ditumpangsarikan dengan tanaman semusim.

4. Pemeliharaan

Penyiangan

Penyiangan berulang-uiang diperlukan sampai pahon-pohon pisang dapat menaungi dan menekan gulma.

Gulma diberantas dengan cara- cara mekanik (dibabat, dibajak, - dan sebagainya) atau dengan tangan: Herbisida pratumbuh cukup efektif, dan jika tanaman telah mencapai tinggi 1,5 m atau lebih, dapat digunakan herbisida kontak.

Pemupukan

Pisang memerlukan sejumlah besar hara. Di pekarangan pemakaian pupuk kandang dan kompos dianjurkan, yang dikombinasikan dengan 0,25 kg urea dan kalium nitrat (muriate of potash) setiap tiga bulan untuk masing-masing rumpun.

Pengairan

Pengairan diperlukan di areal yang memiliki musim kemarau panjang, tetapi juga jika curah hujannya kurang dari 200-220 mm bulan. Air dapat dialirkan melalui parit atau disemprotkan; kini pengairan-tetesan (drip irrigation) telah banyak diterima. Selama putaran pemangkasan ringan, daun-daun yang layu dipotong agar diperoleh mulsa dan untuk menghindari sumber infeksi melalui penyakit-penyakit daun.

Pengurangan anakan

DI perkebunan skala komersial beberapa tindakan lain dilakukan untuk mempertahankan produktivitas yang tinggi dan untuk menjamin buah berkualitas baik untuk pasatan (ekspor).

Tindakan-tindakan itu mencakup pembuangan anakan, pembuangan tunggui-tunggul, pemotongan jantung pisang, dan pengurangan tandan buah.

Setiap 6-12 minggu tanaman pisang dibuangi anakannya, hanya ditinggalkan satu tanaman induk (yang sedang berbuah), satu batang anakan (yang tertua), dan dalam hal tanaman- sirung (ratoons), satu tanaman cucu.

Pada kepadatan yang rendah, setiap rumpun dapat berisi 2 batang induk berikut 2 anakannya.

Jadi, untuk menghindari berjejalnya batang, dan untuk mengatur panen yang berurutan dalam setiap rumpun, satu anakan disisakan pada satu pohon induk setiap 6-10 bulan (atau lebih untuk daerah beriklun sejuk) untuk menghasilkan tandan berikutnya. Hanya anakan yang sehat dan tertancap dalam yang boleh disisakan.

Penyangga atau tali dapat memberikan dukungan tambahan bagi tanaman yang berisi tandan buah; topangan ini akan menghindarkan tanarnan dari patahnya batang karena keberatan oleh tandan.

Jantung pisang hendaknya segera dibuang setelah 2 sisir terakhir dari tandan itu muncul.

Pada waktu yang bersamaan, satu atau dua sisir terakhir mungkin perlu dibuang untuk meningkatkan panjangnya masing-masing buah pisang yang tersisa, dan tandan itu mungkin perlu dikarungi.

Karung itu dapat berupa kantung plastik yang telah diberi insektisida, maksudnya untuk menghindari kerusakan oleh serangga, burung, debu, dan sebagainya, dan untuk menaikkan suhu tandan, memajukan pertumbuhan buah, terutama untuk daerah beriklim dingin.

Pengendalian Hama dan Penyakit

- Penyakit

1. Sigatoka kuning atau bercak daun merupakan salah satu penyakit yang paling berbahaya. Penyakit ini disebabkan oleh Mycosphaerella musicola (tahap konidiumnya disebut Cercospora musae) yang endemik untuk Asia Tenggara, dan hanya dijumpai pada pisang.

Bercak daun ini menyebabkan kematian dini sejumlah besar daun pisang, menyebabkan tandan buah mengecil dengan sedikit sisiran, dan individu buah pisang yang kurang penuh.

2. Penyakit layu Fusarium atau penyakit Panama disebabkan , oleh Fusarium oxysporum f. cubense.

Penyakit ini berupa jamur tanah yang meriyerang akar kultivar- kultivar pisang yang rentan, dan menyumbat sistem pembuluh, sehingga tanaman akan layu.

Satu-satunya cara pemberantasan ialah penghancuran fisik atau kimiawi (herbisida) pada tanaman yang terserang dan tetangga- tetangganya; lahan hendaknya dikosongkan dan dipagari, serta dikucilkan dari penanaman dan aliran pengairan.

Penyakit layu bakteri atau penyakit Moko

Penyakit ini disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum, dan dapat membunuh pohon pisang yang terserang hanya dalam jangka waktu satu-dua minggu.

Bakteri ini dapat ditularkan secara mekanik, tetapi biovar 1- SFS adalah galur yang ditularkan oleh serangga, dan dianggap sebagai galur yang paling berbahaya.

Pengendaliannnya mencakup desinfeksi semua peralatan yang digunakan dalam berbagai pengolahan pertanian dan penghancuran tanaman yang terserang, beserta tetangga- tetangganya.

Fumigasi dan pengkarantinaan lahan yang terserang sangat dianjurkan. Penyakit ini umum,di belahan bumi barat; di Asia Tenggara hanya ada di Filipina (Mindanao).

Penyakit-penyakit virus mencakup penyakit pucuk menjurai (bunchy top), mosaik, dan mosaik braktea. Penyakit pucuk menjurai dan penyakit mosaik ditularkan oleh afid [afid pisang, (Pentalonia nigronervosa), menyebabkan pucuk pisang menjurai; afid jagung (Rhopalosiphum maidis), dan afid kapas (Aphis gossypii), kesemuanya itu adalah vektor- vektor untuk penyakit mosaik]. Pernberantasan penyakit- penyakit ini mencakup tindakan karantina, pemeriksaan secara teratur dan penghancuran tanaman yang terserang, penggunaan bahan perbanyakan yang. bebas virus, pembuangan inang alternatifnya, dan pemberantasan vektor- vektornya.

- Hama

Serangga hama yang paling berbahaya adalah kumbang penggerek pisang (Cosmopolitis sordidus).

Hama ini berasal dari Asia Tenggara, tetapi telah tersebar ke semua areal penanaman pisang. Yang paling merusak adalah Iarvanya: larva-larva itu menggerek bonggol dan menjadi pupa di lorong-lorong yang dibuatnya. Sebagian besar

jaringan bonggol akan rusak, akibatnya akan menurunkan kemampuan pengambilan air dan hara, juga kemampuan tertancapnya tanaman.

Serangga dewasanya meletakkan telur pada jaringan- jaringan bonggol atau di sekitarnya.

Langkah pemberantasannya mencakup pencacahan bonggol dan batang semu agar pembusukan berlangsung lebih cepat, menjerat dan menangkap serangga-serangga dewasa, menggunakan bahan perbanyakan yang tidak terserang, merusak tempat berlindung dan tempat makan serangga dewasa dengan cara menjaga kebersihan lahan di sekitar tanaman, dan menggunakan insektisida. Dua macam 'thrips' menyerang tanaman pisang. 'Thrips' bunga, "thrips florum, berukuran kecil, dapat memasuki buah yang sedang berkembang ketika brakteanya masih ada.

Serangga ini bertelur di situ dan memakan buah-buah yang muda, menyebabkan buah berkulit kasar dan kadang- kadang menjadi pecah-pecah. 'Thrips' merah karat (Chaetanaphothrips signipennis) memakan bagian-bagian tempat perlekatan buah pisang pada tandannya, menimbulkan warna kemerah-merahan.

Pemberantasan hama ini dilakukan dengan insektisida atau pembungkusan tandan; membantu koloni semut berada di sekitar tempat itu juga dapat bermanfaat.

Nematoda pelubang (Radopholus similis) adalah jenis nematoda yang paling merusak. Bercak-bercak atau bintik bintik hitam pada akar menunjukkan adanya serangan yang kemudian diikuti oleh infeksi jamur.

Tanaman yang terserang hebat hanya tinggal berupa batang berakar busuk, yang mudah roboh jika telah terbentuk tandan buah. Langkah-langkah pemberantasannya mencakup pembuangan tanaman yang terserang,

5. Panen dan Pasca Panen

Panen

Buah pisang dipanen ketika masih mentah. Pemetikan yang dilakukan pada tingkat kematangan yang tepat akan menghasilkan buah pisang yang prima.

Tanda-tanda buah pisang yang mempunyai tingkat kematangan cukup antara lain:
  • Buah tampak berisi dan bagian tepi buah sudah tidak ada lagi
  • Pada sisir buah bagian atas sudah ada yang matang sekitar 2-3buah
  • Tangkai pada putik telah gugur
Tingkat kematangan diperkirakan dari adanya siku- siku pada individu buah; buah yang penampang melintangnya lebih bulat berarti lebih matang.

Sewaktu berat buah meningkat dengan cepat sejalan dengan menghilangnya siku-siku pada buah, buah pisang juga menjadi lebih rentan terhadap kerusakan selama pengangkutan, dan buah itu tidak dapat bertahan lama, karenanya harus dipetik lebih awal.

Untuk memanen pisang diperlukan 2 orang, si pemanen dan si pengumpul. Si pengumpul menyandang bantalan bahu untuk menahan jatuhnya tandan setelah si pemanen menusuk batang pisang dengan parang, sehingga bagian atas pohon beserta tandannya merunduk.

Diperlukan satu galah bambu untuk menopang tandan sampai menyentuh bantalan di bahu: Setelah tandan itu merendah dengan cara begitu, si pemanen memotong gagang tandan dengan menyisakan sebagian gagang yang masih berada pada tandan, yang digunakan sebagai pegangan.

Tandan-tandan itu kemudian diangkut dengan hati-hati ke ruangan pengepakan melalui sistem kabel atau dengan gerobak yang ditarik oleh traktor.

Penanganan pasca panen

- Pengumpulan

Pisang yang telah dipanen dikumpulkan ditempat yang terlindung sinar matahari. Daun pisang dapat digunakan sebagai alas agar buah tidak luka. Sebelum dilakukan sortasi, tandan pisang disisir dahulu dengan menggunakan pisau yang tajam agar tidak terjadi luka. Kemudian buah pisang dibersihkan dan disemprot dengan fungisida untuk mencegah timbulnya bahaya penyakit selama saat penyimpanan.

- Sortasi dan Klasifikasi

Sortasi dan Klasifikasi dilakukan menurut ukuran besar dan kecilnya buah, kerusakan atau cacat buah, derajat kematangan, bobot buah dan keseragaman warna.

- Pengemasan

Pengemasan bertujuan agar memudahkan pengangkutan dan melindungi buah dari kerusakan mekanis yang terjadi selama pengangkutan.

Hal yang perlu diperhatika dalam pengemasan adalah kapasitas alat kemasan dan cara menyusun buah pisang dalam kemasan.

Untuk pengangkutan jarak dekat dapat menggunakan keranjang bambu dengan kapasitas 3-4 sisir . Ada pula pedagang yang menggunakan kotak kayu yang berisi 150 pisang per kotak.

Pengemasan untuk ekspor memerlukan penamnganan yang lebih banyak dan cermat. Setelah dipetik buah harus dicuci bersih dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida. Kemudian buah pisang disortasi dan ditimbang serta diberi perlakuan untuk mempertahankan kesegarannya. Pengemasan disesuaikan dengan alat transportasi yang digunakan. Kotak kemasan yang digunakan untuk perdagangan internasional mempunyai kapasitas 18.14 lb(40 lb) dan 12 Kg.

Daya simpan pisang mentah berkisar antara 21-30 hari pada suhu 13-15° C. Kalsium karbida (CaC2) atau larutan etefon dapat digunakan untuk mematangkan buah tua-mentah.

Pada perlakuan kalsium karbida, buah pisang dikenai bahan ini selama 24-36 jam dalam sebuah wadah tertutup, sedangkan pada perlakuan etefon, pencelupan selama 5 menit sudah cukup efektif.

Pada pengusahaan secara komersial besar-besaran digunakan gas etilena.

Pisang diperlakukan selama 24 jam dalam kamar tertutup yang berisi etilena dan suhunya dipertahankan 14-18°C. Setiap 24 jam sekali kamar dibuka untuk ventilasi sampai buah-buah pisang itu mencapai warna yang disenangi konsumen.